KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Menperin: Ekonomi Indonesia nomor dua di Asia setelah China

Kamis, 25 Juli 2013 15:06 Reporter : Yulistyo Pratomo
ilustrasi pertumbuhan ekonomi. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Pertumbuhan ekonomi nasional pada semester I tahun ini hanya 6,1 persen. Meski sedikit melambat, pemerintah masih yakin laju pertumbuhan ekonomi nasional bisa dijaga di atas level 6 persen.

"Kami menilai bahwa pertumbuhan harus dijaga tetap minimum 6 persen. karena kita membutuhkan tingkat pertumbuhan tinggi," ujar Menteri Perindustrian MS Hidayat di Istana Negara, Jakarta, Kamis (25/7).

Meskipun masih jauh dari target tahun ini, pemerintah tetap bangga dengan capaian kinerja perekonomian nasional. Pemerintah mengklaim, meski mengalami perlambatan, capaian tersebut termasuk yang tertinggi di tingkat regional. "Indonesia sekarang tetap nomor dua di Asia, setelah China. Ketiga India," tegasnya.

Untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri, Hidayat melihat perlunya kebijakan yang mendukung perkembangan sektor industri. Tentunya yang bisa membuka peluang lapangan pekerjaan dan multiplier effect lainnya.

"Tadi kita sepakati melakukan relaksasi dari tax holiday supaya lebih fleksibel. Yang kedua Gubernur BI justru menanyakan insentif apa lagi yang dibutuhkan agar industri bisa tumbuh," katanya.

Semisal, insentif untuk industri besi baja, makanan minuman, petrochemical, sektor elektronik. Namun, dia tidak menyebut insentif yang dikhususkan bagi industri-industri tersebut.

"Bicara mengenai insentif apa saja di industri yang bisa diberikan," singkatnya.

Sebelumnya, pemerintah bakal melonggarkan aturan insentif pajak supaya lebih mudah menggaet investor. Laporan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, investasi semester I 2013 belum mencapai 50 persen dari target tahun ini.

Beleid yang baru nanti bakal memberi keleluasaan pembebasan ataupun pajak, khususnya untuk perusahaan yang bisa menyerap banyak tenaga kerja.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, kebijakan pemberian insentif yang selama ini berdasarkan nominal investasi kurang menarik bagi pemodal. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Ekonomi Indonesia
  2. Ekonomi China
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.