Ekonomi Diprediksi Bisa Kembali ke Masa Krisis 98 Jika Darurat Sipil Diberlakukan

Selasa, 31 Maret 2020 12:16 Reporter : Anisyah Al Faqir
Ekonomi Diprediksi Bisa Kembali ke Masa Krisis 98 Jika Darurat Sipil Diberlakukan krisis ekonomi. shutterstock

Merdeka.com - Pemerintah saat ini tengah mengkaji pilihan penerapan darurat sipil untuk memutus rantai penyebaran virus corona. Kebijakan ini untuk memperkuat kebijakan pembatasan sosial berskala besar.

Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, pertumbuhan ekonomi bukan hanya bisa 0 persen, bahkan mungkin saja untuk negatif jika darurat sipil diberlakukan.

"Ekonomi bukan hanya 0 persen tapi akan negatif pertumbuhannya," jelasnya kepada merdeka.com, Jakarta, Selasa (31/3).

Sebab, aktivitas produksi, distribusi dan konsumsi semuanya bakal terdampak. Sementara, kebutuhan pokok tidak dipenuhi negara.

Krisis ekonomi seperti di tahun 1998 pun, lanjutnya, bisa terulang jika kebijakan darurat sipil diberlakukan. "Ini berbahaya. Chaos," ujarnya.

Maka dari itu, dia menyarankan pemerintah sebaiknya konsisten menggunakan UU Kekarantinaan Kesehatan. Sehingga kebutuhan pokok menjadi tanggungan negara.

"Soal bisa tidaknya itu amanat undang-undang. Pemerintah harus tunduk pada konstitusi," kata Bhima.

1 dari 2 halaman

Aktivis Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI), Julius Ibrani menolak keras rencana tersebut. Dia menilai, pemerintah harus berhati-hati dalam menggunakan dasar hukum yang digunakan untuk meminimalisir bias tafsir dan penggunaan kewenangan yang lebih tepat sasaran.

"Artinya ada gangguan atas ketertiban umum sehingga harus ada pembatasan dan surveillance sampai ke ruang private sipil," jelas Julius kepada merdeka.com, Senin (30/3), saat ditanya apa arti darurat sipil yang hendak diaktifkan Jokowi.

Dia mendesak pemerintah tetap mengacu pada UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana dan UU No 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Bukan over reaktif dengan memberlakukan darurat sipil.

Julius menjelaskan, isu Covid-19 merupakan kondisi yang disebabkan oleh bencana penyakit. Selain itu, penerapan pembatasan sosial meluas yang merujuk pada karantina kesehatan perlu dilakukan guna menghindari sekuritisasi problem kesehatan yang tidak perlu.

Harus diakui, lanjut dia, sejak awal pemerintah alpa mematuhi keseluruhan prosedur yang telah diatur dalam UU Penanggulangan Bencana. Sebelum penetapan masa tanggap darurat nasional, semestinya Presiden Joko Widodo melakukan penetapan status darurat bencana nasional (Pasal 51 ayat 2).

"Oleh karena itu, Presiden hendaknya segera mengeluarkan keputusan (Kerpres) terkait penetapan status bencana nasional yang akan menjadi payung hukum penerapan kebijakan pembatasan sosial," tambah pria akrab disapa Ijul ini.

Ijul menegaskan, pemerintah belum saatnya menerapkan keadaan darurat militer dan darurat sipil. Optimalisasi penggunaan UU Kekarantinaan Kesehatan dan UU Penanggulangan Bencana masih dapat dilakukan pemerintah dalam penanganan wabah Covid-19.

"Oleh karena itu, pemerintah belum saatnya menerapkan keadaan darurat militer dan darurat sipil," tambah dia lagi.

Ijul tak membayangkan apabila Jokowi mengaktifkan tombol Darurat Sipil. Sebab, semua ruang privasi bakal diatur oleh penguasa. Salah satu contoh kecilnya, diberlakukan jam malam. "Dan lainnya, pembatasan mobilisasi, pemidanaan juga seperti Aceh dulu," tegas dia.

2 dari 2 halaman

Darurat Sipil Langkah Terakhir

langkah terakhir

Diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta pembatasan sosial berskala besar untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19. Tidak hanya itu, Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut juga meminta pembatasan tersebut didampingi dengan adanya kebijakan darurat sipil.

"Sudah saya sampaikan bahwa perlu didampingi adanya kebijakan darurat sipil," kata Jokowi dalam membuka rapat terbatas terkait laporan satuan gugus tugas Covid-19 melalui siaran teleconference di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (30/3).

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman menjelaskan, darurat sipil sebagai jalan terakhir apabila pembatasan sosial skala besar tidak berjalan mulus. Hal tersebut bertujuan agar tidak semakin bertambahnya pasien positif corona di Indonesia.

"Pemerintah juga mempertimbangkan usulan pemberlakuan Darurat Sipil supaya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dapat dijalankan secara efektif," kata Fadjroel dalam pesan singkat, Jakarta, Senin (30/3).

Tetapi, dia menjelaskan, penerapan darurat sipil sebagai langkah akhir. Dia berharap, kebijakan itu tak dilakukan Presiden Jokowi."Penerapan Darurat Sipil adalah langkah terakhir," ungkap Fadjroel.

[bim]

Baca juga:
Darurat Sipil Jika Menyangkut Keamanan Negara, Tak Tepat untuk Covid-19
Bikin Haru, Para Pasien Positif Corona Ini Gelar Salat Bersama
Kemendes PDTT Perintahkan Perangkat Desa Pantau Warga Rantau dari Jakarta
Pemkot Bogor Usulkan Penggunaan Laboratorium IPB untuk Tes Swab Covid-19
Larangan Operasional Bus AKAP-AJAP di Jakarta Dinilai Bentuk Panic Policy
Pasien Positif Sembuh, Wali Kota FX Rudy Klaim Solo Bebas Corona
Satu Pasien Dalam Pengawasan di RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Meninggal

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini