Dulang Untung di Atas Bantaran Terlarang Kali Ciliwung

Kamis, 22 Agustus 2019 07:00 Reporter : Merdeka
Dulang Untung di Atas Bantaran Terlarang Kali Ciliwung Bangunan di Bantaran Kali Ciliwung. ©2018 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Ikhtiar Mustaqim mencari penghasilan tak terhalang larangan. Membuat usaha di bantaran terlarang Kali Ciliwung.

Dalam peraturan terbilang 10-20 meter dari bibir sungai atau sempadan dilarang dibangun. Sungai, termasuk sempadan, ialah milik negara.

©2019 Merdeka.com

Mustaqim berprofesi sebagai pembuat tempe. Sudah 25 tahun lamanya dia tinggal di atas bantaran tersebut. Menggunakan sistem sewa.

Sebelum menjadi pembuat tempe, pria berusia 60 tahun ini berprofesi sebagai pembuat genteng di Pekalongan. Bermodal tekad mengubah nasib, Mustaqim merantau ke Jakarta.

Setelah pindah ke Jakarta, dia tidak langsung menjadi pembuat tempe seperti sekarang ini. "Awalnya masih bantuin Kakak saya. Saya belajar melihat prosesnya, akhirnya saya membuat (tempe) sendiri," jawab Mustaqim di kediamannya, Kali Ciliwung, Minggu (18/8).

Mustaqim menceritakan bahwa dirinya lupa sejak kapan menjadi pembuat tempe seorang diri. Meski tak memiliki karyawan, dirinya sanggup membuat 60 Kilogram (Kg) tempe dalam sehari.

"Ini membuat tempenya sendiri. Alhamdulillah masih dikasih sehat. Dulu cuma sanggup buat 5-10 Kg saja. Kalau sekarang bisa 60 Kg dalam satu hari," jawabnya.

Setelah selesai dibuat, Mustaqim akan menjual tempe hasil olahannya ke Pasar Jatinegara. Harga jual satu tempe dipatok sebesar Rp 6.000 per papan.

©2019 Merdeka.com

Meski tinggal di pinggir kali, dirinya menegaskan tidak pernah menggunakan air kali dalam membuat tempe. Dia menggunakan pompa air miliknya sendiri.

Dia memastikan bahwa pembuatan tempe ini bersih dari air Kali Ciliwung. "Kalau misalnya airnya lagi bermasalah, mending saya tidak usah membuat tempe. Jadi, libur dulu," tutupnya.

Reporter Magang: Rhandana Kamilia [bim]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini