Dolar tembus Rp 15.000, BI yakinkan masih aman

Kamis, 4 Oktober 2018 15:43 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Dolar tembus Rp 15.000, BI yakinkan masih aman Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara. ©2017 Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara angkat bicara terkait kondisi Rupiah yang melemah hingga melewati level 15.000 per USD. Mirza menegaskan pada dasarnya kondisi Rupiah masih aman meski nilai tukarnya sudah menyentuh level 15.000.

"Kamu jangan lihat levelnya. Masih aman, yang penting supply dan demand-nya masih jalan," kata Mirza di Kantornya, Jakarta, Kamis (4/70).

Mirza menjelaskan, nilai tukar atau kurs tidak hanya dilihat dari angkanya saja. Melainkan dari faktor-faktor pendorong lainnya. "Kalau lihat kurs, jangan lihat angka Rp 15.000-nya, tapi lihat bagaimana volatilitasnya, bagaimana supply dan demand-nya, Kita sudah mengalami volatilitas ini sejak 2013. Dari Rp 10.000 ke Rp 11.000, lalu jadi Rp 12.000, jadi Rp 13.000," ujarnya.

Selain itu, dia menyatakan bahwa kondisi pelemahan nilai tukar saat ini tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan di beberapa negara yang lain juga mengalami hal serupa, bahkan lebih parah.

"Tapi bukan cuma Indonesia, India juga mengalami seperti itu, Filipina, Meksiko, Brasil, Afrika Selatan. Bahkan negara-negara maju yang suku bunganya lebih rendah dari AS juga mengalami pelemahan kurs. Australia juga. Jadi, yang penting supply dan demand-nya berjalan dengan baik, inflasi terjaga dengan baik. Jadi, jangan terpaku pada level," ungkapnya.

Mirza mengungkapkan, saat ini sektor perbankan Indonesia juga masih kuat. Di mana, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di atas 20 persen. "Banking sector kan resiliensinya (kemampuannya) bagus, CAR di semua bank, buku satu sampai buku empat, di atas 20 persen, jadi strong. Minimumnya 8,5 persen, kalau pakai risiko minimum 14 persen. Sekarang semua di atas 20 persen," ujar Mirza.

Dia juga menegaskan kondisi likuiditas perbankan masih baik-baik saja meski BI sudah sering menaikkan suku bunga acuan beberapa bulan terkahir ini.

"BI memang naikkan bunga, tapi bunga yang kami lihat di pasar time deposite, kalau BI sudah naikkan 150 bps, bunga di pasar time deposite kenaikannya belum sampai 150 bps jadi masih terkendali. BI selalu siap term likuiditas dengan nama term repo. Ada fasilitas term repo, kami buka di bulan Mei, bulan Juni, jadi BI pasti akan masuk ke pasar untuk tambah likuiditas jika likuiditas Rupiah mengetat," tegasnya.

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini