Ditinggal partner dari China, proyek smelter Antam belum jelas

Selasa, 31 Maret 2015 16:32 Reporter : Saugy Riyandi
Ditinggal partner dari China, proyek smelter Antam belum jelas ilustrasi pabrik pengolahan. ©2014 merdeka.com/idris rusadi putra

Merdeka.com - Rencana PT Aneka Tambang (Antam) membangun pabrik pengolahan dan pemurnian atau smelter Grade Alumina (SGA) di Menwapah, Kalimantan Barat belum menunjukkan titik terang. Lahan dan perizinan lagi-lagi dijadikan alasan belum terealisasinya rencana itu.

"Untuk yang di Mempawah masih mendapatkan tanah, namun kelihatan baru setengah," ujar Direktur Utama PT Antam Tbk Teddy Badrujaman usai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan 2014 di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (31/3).

Persoalannya tidak hanya tanah dan perizinan, tapi juga kepastian rekan kerja sama. Partner Antam dari China tak lagi berminat melanjutkan investasi di Menwapah. "Perlu cari partner baru," kata dia.

Seperti diketahui, pada 2010 perusahaan telah menandatangani kerja sama pembangunan smelter dengan perusahaan asal China Hangzou Jinjiang Group (HJG) dengan nilai kerja sama hingga USD 1 miliar.

Namun, pada 2011 perusahaan asal China menyatakan tak lagi berminat dengan proyek itu. Antam tak mungkin sendirian mengerjakan proyek smelter lantaran tidak memiliki teknologi di bidang pengolahan alumina.

Tahun lalu, Menteri badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan memberikan arahan untuk bermitra dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dalam pembangunan smelter. Namun hal itu juga belum terealisasi.

Rencana awal, pabrik pengolahan ini bisa mulai dibangun tahun lalu dengan masa pembangunan 3 tahun dan dapat beroperasi pada akhir 2016. Pabrik SGA Mempawah yang terletak di Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat sedianya bakal memproduksi alumina dengan kapasitas sebesar 1 juta metrik ton per tahun dari mengolah 4 juta metrik ton bijih bauksit. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini