Dari Wapres JK hingga Ahok punya mimpi produk Indonesia tak kalah dari serbuan China

Rabu, 3 Januari 2018 07:00 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo
ahok jk. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Produk China kini dengan mudah bisa ditemukan di Tanah Air. Mulai baju hingga gadget China, dewasa ini makin berserakan di Indonesia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan 94 persen perdagangan seperti di e-commerce masih didominasi oleh produk yang berasal dari China. Wapres JK meminta investor mengambil alih penyediaan produk dalam negeri supaya tidak dirajai oleh produk asing.

"Saya mendengar dari laporan e-commerce 94 persen yang dijual e-commerce adalah barang China, angkanya tidak terlalu jelas, tapi tinggi sekali," ujar Wapres JK saat pembukaan bursa saham 2018.

Wapres JK juga meminta investor lebih gencar melakukan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi semakin tinggi. Investasi dilakukan bukan hanya investasi modal namun juga investasi riil.

"Kepada saudara-saudara investor, emiten yang ada di sini, bahwa satu satunya yang perlu kita tingkatkan adalah investasi. Investasi riil bukan hanya investasi di pasar modal," jelasnya.

Investasi riil dapat dimulai dengan membangun pabrik, smelter dan infrastruktur lain yang dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi. "Jadi bukan hanya pasar uang tapi riil dalam bentuk fisik."

Keadaan ini sungguh memprihatinkan. Apalagi Indonesia punya SDM dan alat-alat produksi yang sebenarnya tak kalah modern dengan perusahaan-perusahaan dari Negara Tirai Bambu itu.

Saat masih menjabat sebagai wakil gubernur, Basuki Tjahja Purnama atau Ahok yakin sebetulnya Indonesia mampu memproduksi barang terutama produk kreatif yang lebih baik dari karya produk China.

Dia mencontohkan, jika orang berlibur ke Jakarta, tak tahu akan membeli apa yang bisa dijadikan souvenir. "Ketika ingin promosi Jakarta Baru, banyak orang bingung ke Jakarta mau beli apa. Kalau ke luar negeri, souvenir-souvenir yang kecil-kecil di desain unik oleh negaranya, tapi bedanya ada tulisan made in China. Kita ingin desain dari kita, made in pun made in Jakarta," kata Ahok.

Ahok berjanji akan memberi wadah kepada mereka agar bisa mengembangkan produk kreatif yang dapat bersaing sampai ke internasional. Untuk mendukung kegiatan ini, Ahok meminta anak buahnya untuk mempersiapkan aula di Monas menjadi ruang pameran produk kreatif terutama yang mencirikan Jakarta.

Dengan cara ini, Ahok yakin barang produksi anak Indonesia terutama Jakarta bisa menggeser barang-barang Made in China. "Kita ingin desain dari kita, made in pun made in Jakarta. Yang penting konsisten, tidak boleh kalah sama premanisme. Bangsa Indonesia tak mungkin kalah," tandasnya.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita meminta para importir buah untuk mengurangi impor dari China hingga 80 persen. Hal ini disampaikan langsung dalam pertemuan bersama asosiasi pengusaha di Kementerian Keuangan.

"Saya meminta keikhlasan untuk memotong 80 persen impor buah dari China," ungkapnya.

"Karena kita enggak makan Jeruk itu, kita tetap survive," tegasnya.

Menurut Enggar, pengurangan impor buah dari China akan memberikan dampak positif bagi produksi buah dalam negeri. Pasca pengurangan impor buah dari China, produksi buah dalam negeri dipastikan meningkat. Hal ini berkaca dari kebijakan pemerintah yang telah melarang atau mengurangi impor wortel beberapa waktu lalu.

"Dampak apa yang muncul? Jeruk Pontianak, jeruk Garut sekarang produksinya meningkat. Tahun lalu kami minta untuk tidak mengimpor wortel apa yang terjadi, wortelnya bagus sekali," tambahnya.

Kemendag juga berencana memperketat penerapan wajib SNI, melainkan juga memberlakukan Keamanan, Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan (K3L).

"Pengawasannya dimulai dari pra pasar sebelum masuk ke Indonesia, melalui pengawasan di kepabeanan oleh Bea Cukai, pengawasan di sana apakah dia sudah ada sertifikat SNI atau belum," ujar mantan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga, Widodo.

"Setelah itu, di pasar pun kita lakukan pengawasan. Misalnya ada yang ditarik dari peredaran, dimusnahkan, tidak sesuai SNI yang diberlakukan secara wajib," pungkasnya.

Arifin Paparang dari Shanghai Youyijia Food Trading Co.Ltd menilai banyak pelaku usaha,kecil dan menengah (UKM) di Indonesia yang takut memasuki pasar global, termasuk China. UKM diminta jeli melihat setiap peluang usaha.

Dia mengatakan, memasuki pasar China memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak dapat ditaklukkan. Pria kelahiran Makassar tersebut mengatakan Indonesia memiliki sumber daya manusia dan produk yang berkualitas dan mampu bersaing di pasar global, termasuk di pasar China.

Shanghai Youyijia Food Trading Co.Ltd merupakan importir produk makanan dari Mayora Indonesia.

[bim]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.