Dampak krisis Turki, hidup rakyat Indonesia bisa makin sulit

Senin, 13 Agustus 2018 14:31 Reporter : Merdeka
Dampak krisis Turki, hidup rakyat Indonesia bisa makin sulit Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden AS Donald Trump. AFP

Merdeka.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) kembali melemah tajam. Rupiah saat ini berada di level Rp 14.614 per USD.

Pengamat Ekonomi ‎Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, mengatakan ‎anjloknya Rupiah akan berdampak pada kenaikan inflasi. Baik karena bahan pangan maupun bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi karena pengaruh biaya impor yang membengkak.

"Ini bisa gerus daya beli masyarakat," ujar dia di Jakarta, Senin (13/8).

Pelemahan Rupiah ini juga menimbulkan potensi gagal bayar utang luar negeri swasta. Terlebih masih ada pihak swasta yang belum melakukan lindung nilai (hedging) terhadap utang luar negerinya.

"Saat ini, tidak semua utang swasta di-hedging maka sangat sensitif ke selisih kurs," kata dia.

Dampak lain dari depresiasi ini yaitu terhadap industri manufaktur, di mana akan membuat industri menahan ekspansinya karena naiknya biaya bahan baku dan barang modal yang masih diimpor.

"Ongkos logistik juga semakin mahal karena 90 persen kapal untuk ekspor impor pakai kapal asing yang hanya terima valas," tandas dia.

Seperti diketahui, Rupiah kembali merosot tajam hingga level Rp 14.600 per USD. Hal itu salah satunya disebut sebagai imbas dari krisis keuangan yang dialami oleh Turki.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menyebutkan ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi kondisi Rupiah. Namun untuk kali ini yang mengambil andil cukup besar dalam pelemahan mata uang Garuda tersebut adalah krisis yang sedang terjadi di Turki.

Reporter: Septian Deny
Sumber: Liputan6.com [bim]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini