Dampak Corona, Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I Merosot Tajam

Jumat, 15 Mei 2020 20:47 Reporter : Aksara Bebey
Dampak Corona, Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I Merosot Tajam Ilustrasi. ©2020 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan pertama tahun 2020 menyusut tajam, di bandingkan dengan raihan pada periode yang sama tahun lalu. Ini berpengaruh pada daya beli masyarakat beserta komponen di berbagai sektor perekonomian.

Kondisi ini merupakan akumulasi dampak dari keberadaan virus corona yang terjadi awal tahun hingga ditetapkan sebagai pandemi. Pengaruhnya pun multidimensi hingga ke tataran sosial.

"Pertumbuhan (ekonomi) Jabar kalau biasanya di atas 5 persen atau di atas nasional. Kemarin, triwulan I 2020 angka pertumbuhan ekonomi jabar 2,73 persen, sementara nasional 2,97 persen. Artinya, penyusutannya lumayan dalam dari sisi pertumbuhan ekonomi. Ini akan berpengaruh pada income, daya beli masyarakat, dan termasuk dunia usaha," kata Direktur Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi KPW BI Jabar Pribadi Santoso saat konferensi pers, Jumat (15/5).

Dari sisi inflasi, angka terakhir pada April, Jabar tercatat berada di angka 3,77 persen, sementara nasional 2,67 persen. Raihan tersebut merupakan pekerjaan yang harus diselesaikan. Meski saat ini komponen pertumbuhan perekonomian, seperti dunia usaha mengalami pelemahan. Penurunan pun terjadi di sektor konsumsi hingga ekspor.

Konsumsi tercatat hanya tumbuh 3,04 persen, investasi tumbuh 0,71 persen, padahal biasanya berada di angka belasan atau positif. Sementara ekspor tumbuh negatif -2,5 persen. Impor juga tumbuh minus karena ada penghentian operasi atau penundaan, angkanya di -4,89 persen.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan melambat 1,58 persen, perdagangan 0,15 persen, pertanian tumbuh negatif, karena ada pergeseran musim tanam yang biasanya terjadi di triwulan I menjadi pertengahan triwulan II.

Sejumlah kebijakan harus dilakukan untuk setidaknya memperbaiki atau tetap menjaga perekonomian tetap berjalan di tengah pandemi. Ia menyebut ada empat program yang menjadi dasar.

Yang pertama menjaga daya beli masyarakat terutama yang kurang mampu, melalui bantuan sosial. Upaya ini sudah berjalan baik dari pemerintah maupun perusahaan, hingga perbankan ikut berpartisipasi.

Kedua, adalah menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi meskipun di tengah physical distancing. Pihaknya sudah bekerja sama dengan fintech untuk mengalihkan penjualan dengan sistem daring (online). Metode ini membuat masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhannya, penjual tetap bisa menjalankan bisnisnya.

"Tapi kami sadari bahwa sistem online ini (tumbuh efektif) di kota besar saja. Di pelosok gimana? Kami meng-nonline-kan pasar tradisional. Contohnya ada pasar di Tasikmalaya. Aktivitas ekonomi berjalan dengan higienis, revitalisasi juga bagus, seperti pengadaan wastafel dan lain-lain. Intinya kegiatan yang sifatnya strategis dan esensial berjalan dengan baik," ucap dia.

Yang ketiga, pihaknya menjaga ketersediaan uang kartal yang higienis. Uang yang dari ATM dan kasir perbankan sudah dikarantina sebelum diedarkan ke masyarakat. Hal ini diakui sempat berimbas pada kas perbankan agak banyak karena harus numpuk uang.

Yang terakhir, saat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir atau dilonggarkan, industri yang sempat tutup bisa beroperasi dengan lancar, terutama sektor UMKM.

"Covid ini kapan enggak tahu berhenti, sementara situasi globalnya belum menentu, yang akan mengambil posisi lead jangka pendek mungkin UMKM, ini yang harus dipastikan setelah PSBB dibuka, UMKM bisa langsung bergerak," pungkasnya. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini