Dalam 4 hal ini, China jadi raja di Indonesia

Selasa, 18 Juli 2017 06:00 Reporter : Saugy Riyandi
Pekerja China ilegal di PLTU Kukar. ©2016 merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Indonesia telah menjalin kerja sama dengan China. Mulai dari perdagangan hingga kerja sama ekonomi. Bahkan, pemerintah mencari dana investasi hingga ke China.

Menteri Koordinator Maritim Luhut Pandjaitan memastikan Konferensi Tingkat Tinggi Jalan Sutra atau Belt and Road Initiative (BRI) di Beijing, 14-15 Mei lalu, menghasilkan langkah nyata. Luhut bahkan memuji forum kepala negara yang diinisiasi China tersebut lebih baik ketimbang pertemuan sejenis lainnya.

"Pada forum Belt and Road Forum ini saya lihat, mungkin bisa dikatakan lebih baik dari APEC. Karena mereka membicarakan hal-hal konkrit," katanya dalam siaran pers, Beijing, kemarin.

China menjadikan forum dihadiri 29 kepala negara tersebut untuk menancapkan pengaruhnya di eurasia. Mengingat, menurut Luhut, Negeri Tirai Bambu tersebut memiliki dana hingga mencapai USD 3 triliun.

"Jika mereka mainkan USD 1 triliun saja itu bisa membangun perekonomian baru di berbagai negara. Banyak negara lain yang sudah mendapatkan dana investasi ini, mungkin masih banyak negara yang ingin mendapatkannya juga," katanya.

"Yang sudah dapat antara lain, Saudi Arabia yang China membeli sebagian saham Saudi Aramco, Pakistan mendapat hingga USD 62 miliar, Malaysia dapat lebih dari USD 30 miliar, Filipina juga mendapat lebih dari USD 20 miliar."

Indonesia tentu saja tak mau ketinggalan. Meski Luhut tak menyebut besaran dana China yang diharapkan mengalir ke Tanah Air. Namun, pemerintah telah menawarkan sejumlah proyek yang bisa dibiayai Negeri Panda.

"Seperti proyek terintegrasi di Bitung, kemudian di Sumatera Utara yang juga merupakan proyek terintegrasi, membuka konektivitas disana, lalu ada juga proyek listrik dan pembangunan kawasan industri di Kalimantan Utara.

Namun, Pemerintah Jokowi-JK diminta untuk tidak hanya fokus pada China dalam mencari dana investasi. Ini bertujuan untuk mengurangi risiko dari gejolak mata uang akibat ketidakpastian kebijakan Presiden Donald Trump.

Pengamat ekonomi, Aviliani menilai, negara seperti Jepang, negara-negara Timur Tengah, dan Eropa memiliki potensi besar dalam menarik investasi.

"Akan lebih bagus menggunakan banyak negara itu akan mengurangi juga risiko mata uang kita. Sebaiknya sebanyak-banyaknya negara investasi. Sekarang kan kita China saja," ujarnya.

Kondisi Indonesia, lanjutnya, saat ini masih dilihat seksi oleh investor asing. Di mana, stabilitas politik dan keamanan masih terjaga dengan baik.

"Kalau kita lihat dari analisis-analisis lembaga internasional, kita dianggap risikonya tidak terlalu tinggi dibandingkan negara-negara lain kalau konflik. Seperti Pilkada misalnya. Itu kita dianggap tidak separah negara lain," tuturnya.

Namun, dalam beberapa hal, China berkuasa di Indonesia. Mulai dari pekerja asing hingga turis yang berlibur di Tanah Air. Berikut penguasaan China di Indonesia seperti dirangkum merdeka.com:

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.