Dahlan sebut Indonesia impor elpiji bukti konversi gas sukses

Kamis, 11 September 2014 16:21 Reporter : Novita Intan Sari
Dahlan sebut Indonesia impor elpiji bukti konversi gas sukses Distribusi Gas Elpiji 12kg. ©2013merdeka.com/m. luthfi rahman

Merdeka.com - Indonesia kaya akan Liquid Natural Gas (LNG), namun selama ini disebut-sebut terpaksa mengimpor bahan baku yang cocok untuk mengisi tabung elpiji alias jenis Liquified Petroleum Gas. Karena itulah harga gas elpiji di Indonesia cukup mahal.

Menteri BUMN Dahlan Iskan ikut bercerita mengenai besarnya impor elpiji. Dalam pandangan Dahlan, besarnya impor sebagai dampak suksesnya program pemerintah dalam konversi minyak tanah ke gas.

Dia mengklaim, suksesnya program ini membuat masyarakat berbondong bondong menggunakan gas. Di sisi lain, pasokan dalam negeri tidak mencukupi.

"Dulu kita bangga melakukan konversi minyak tanah ke elpiji. Ini sukses besar karena kita mengubah budaya. Gara-gara orang sudah sukses konversi, akhirnya kita impor elpiji besar-besaran," ucap Dahlan di Jakarta, Kamis (11/9).

Menurut Dahlan, pasokan elpiji dalam negeri hanya mampu memenuhi 40 persen kebutuhan masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan, Pertamina harus mengimpor elpiji cukup besar.

Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Dahlan meminta PT Perusahaan Gas Negara (PGN) mencari jalan keluarnya. Dahlan meminta rumusan untuk meningkatkan produksi gas dalam negeri.

"Bagaimana PGN punya pemikiran untuk atasi soal ini, sudah banyak rumusannya dan harus didetailkan. Seminggu lagi didetailkan," katanya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memaparkan latar belakang PT Pertamina (Persero) mengalami kerugian besar dalam bisnis gas elpiji 12 kilogram (kg). Selain menjual eceran di bawah harga keekonomian, BUMN Migas itu sebetulnya mengimpor sebagian besar bahan baku gas untuk konsumsi rumah tangga dan UMKM tersebut.

Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo menjelaskan impor itu bukan karena Indonesia kekurangan produksi gas. Justru negara ini kaya dengan Liquid Natural Gas (LNG).

Masalahnya, LNG bukanlah bahan baku yang cocok untuk mengisi tabung elpiji alias jenis Liquified Petroleum Gas.

"Gas di Indonesia kandungan elpijinya itu memang tidak besar. Jadi meskipun produksi gas kita banyak tapi yang bisa diambil menjadi elpiji tidak besar, jadi kita masih harus impor," ujarnya selepas membuka Seminar "Mewujudkan Kedaulatan Energi Nasional" di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (10/9).

Elpiji yang bisa dihasilkan dari pasokan gas nasional per tahun hanya 1,3 juta ton setara minyak. Sementara kebutuhan elpiji, mencakup tabung 3 kilogram subsidi dan tabung 12 kilogram, mencapai 5 juta ton setara minyak per tahun.

"Itu enggak bisa dinaikkan lagi (pasokan dari dalam negerinya)," kata Susilo.

Susilo menyadari bahwa pemerintah rentan disalahkan dengan kebijakan impor gas itu. Apalagi pada 2005, pemerintah yang memaksa masyarakat beralih dari minyak tanah ke tabung elpiji 3 kilogram buat memenuhi kebutuhan energi sehari-hari. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini