Curhat bos Baba Rafi soal peran pemerintah Jokowi dukung wirausaha dalam negeri

Rabu, 28 Februari 2018 07:00 Reporter : Siti Nur Azzura
Curhat bos Baba Rafi soal peran pemerintah Jokowi dukung wirausaha dalam negeri Kebab Turki Baba Rafi. ©2018 Merdeka.com/Azzura

Merdeka.com - Owner and Marketing Director PT Baba Rafi Indonesia, Nilam Sari menilai bahwa kebijakan pemerintah saat ini sudah memberikan dampak positif terhadap pengusaha. Menurutnya, pemerintah sudah memberikan perhatian lebih terhadap kemajuan wirausaha.

"Kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah sangat berdampak apalagi seperti tahun politik seperti ini. Pemerintah sekarang sudah banyak membantu pengusaha. Terutama dengan adanya Bekraf, banyak mengapresiasi usaha yang bersifat kreatif, contohnya sektor makanan yang merupakan 16 sub sektor dari Bekraf," kata Nilam kepada merdeka.com.

Melalui Bekraf, pengusaha diberikan pembelajaran bagaimana untuk mengembangkan suatu ide, dan membina pengusaha kecil tidak hanya dari sisi konvensional namun juga dari segi strategi. "Apalagi pemerintah sedang menggaungkan tentang kewirausahaan ya, bagus sekali," imbuhnya.

Meski demikian, dia menilai kemudahan yang diberikan pemerintah saat ini masih tertinggal dengan negara lain, termasuk dari sisi ekonomi kreatif. Meski demikian, jika pengusaha bisa memiliki strategi disertai dukungan pemerintah, dia meyakini Indonesia bisa mengejar ketertinggalan.

Dia juga bercerita mengenai perbedaan membuka bisnis di Indonesia dan di negara lain, contohnya Singapura. Jika di Singapura, membuka bisnis sangat sulit karena banyaknya aturan yang harus dilengkapi. Namun, membuka bisnis di Indonesia sangat mudah dan tidak dipusingkan mengenai aturan.

Sayangnya, iklim bisnis di Singapura lebih menjanjikan dibanding di Indonesia. Sebab, pemerintah Singapura memberikan banyak insentif dan kemudahan bagi pengusaha, serta memprioritaskan pengusaha lokal untuk bisa berkembang. Namun, di Indonesia masih terdapat banyak kendala yang harus dihadapi oleh pengusaha, salah satunya kebijakan kenaikan upah buruh tiap tahun.

"Otomatis semua orang akan wait and see. Jadi konsumsi menurun secara drastis, otomatis berpengaruh terhadap bisnis di Indonesia. Kedua, kenaikan UMR di luar negeri itu tidak per tahun seperti di sini. Kalau di Indonesia itu per tahun. Ini sulit lho bagi pengusaha untuk mengatur dan mengkalkulasi semua biaya. Masa harus berubah setiap tahun. Bahkan kadang harganya naik 2 kali. Karena ya tadi harga-harga sangat fluktuatif. Jadi perusahaan terus meng-adjust (menyesuaikan) soal biaya," jelasnya.

Meski demikian, Nilam meyakini setiap negara memiliki keunikannya masing-masing. Hal ini tentunya tergantung bagaimana pengusaha pintar membaca situasi untuk tetap bertahan.

"Baba Rafi sudah 15 tahun, kita bisa belajar dari kasus kemarin bahwa akan selalu ada siklus per 5 tahun di mana situasi politik (bisnis) akan menurun, dari segi investasi. Kita belajar untuk punya beberapa back up plan menjelang pemilu. Tentunya ini tantangan buat kita untuk selalu melakukan inovasi dan pendekatan yang berbeda," tandasnya.


[azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini