CT ingin percepat skema pengurangan pajak investasi strategis

Senin, 16 Juni 2014 14:28 Reporter : Ardyan Mohamad
CT ingin percepat skema pengurangan pajak investasi strategis Industri Mobil. ©2012 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung mengaku sudah mendapat masukan Kementerian Keuangan mengenai skema pengurangan pajak (tax allowance) dan pembebasan pajak (tax holiday) buat beberapa jenis investasi. Rencana seharusnya berjalan Mei 2014 itu tak jelas implementasinya.

CT, demikian menko kerap disapa, menjamin kebijakan pelonggaran pajak itu dilaksanakan tahun ini, sebelum ada pergantian pemerintahan. "Secepat mungkin akan kita bahas lagi. Paling enggak pondasinya. Karena kan kita kerja bukan cuma untuk pemerintahan ini," ujarnya di komplek DPR RI, Jakarta, Senin (16/6).

Pelonggaran syarat tax allowance dan tax holiday merupakan senjata pemerintah untuk menahan kaburnya modal dari Indonesia. Ide dasarnya, bagi perusahaan asing yang bersedia terus memutar dananya di Tanah Air, maka akan diberikan pengurangan pajak penghasilan (PPh) selama lima tahun.

Aturan pembebasan pajak sekaligus dibuat lebih longgar bagi perusahaan padat karya dan pionir yang hendak membangun pabrik di Indonesia. Terutama industri logam dasar, atau jenis pabrik yang bisa menyediakan barang substitusi impor.

Dulu, tax holiday cuma diberikan bila nilai investasi mencapai Rp 1 triliun. Kini, prasyarat itu turun jadi Rp 500 miliar saja. Jangka waktu pembebasan pajak dalam rencana pemerintah juga lebih lama, lebih dari 10 tahun.

Akan tetapi, untuk melansir kebijakan ini, perlu tanda tangan menko perekonomian terkait revisi Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2011. CT membantah bila beleid itu tak kunjung disahkan akibat ketiadaan anggaran di APBN.

"Sudah ada hitungan fiskalnya. Kalau kementerian keuangan mengusulkan sesuatu, maka badan Kebijakan Fiskal sudah membuat simulasi, ungkapnya.

CT melihat, percepatan implementasi pelonggaran pajak akan menguntungkan pemerintah di kala perekonomian global melemah seperti sekarang. Sebab, di banyak negara pengurangan pajak malah menggenjot penerimaan negara.

"Ada asumsi kalau kita kurangi pajak, pendapatan negara berkurang. Padahal begitu kita turunkan, pendapatan meningkat, karena compliance meningkat, keinginan orang membayar pajak juga meningkat," kata mantan Ketua Komite Ekonomi Nasional ini. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini