Cicip bantah Indonesia rajin impor ikan

Kamis, 17 Oktober 2013 12:18 Reporter : Ardyan Mohamad
Cicip bantah Indonesia rajin impor ikan Cicip Sutardjo. Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo, menilai impor ikan yang dilakukan Indonesia masih dalam batas wajar. Dia menyebut, ekspor produk kelautan dari Tanah Air secara ekonomis masih lebih besar. Karenanya, adanya pendatangan produk perikanan dari luar negeri ke negara maritim ini baginya tak perlu dibesar-besarkan.

"Siapa bilang banyak impor, pada 2012 kita mengekspor USD 4 miliar, kita hanya impor USD 380 juta, tidak ada 10 persennya," kata Sharif di JCC, Jakarta, Kamis (17/10).

Untuk produk lain, seperti tuna, udang dan rumput laut, politikus Golkar ini mengklaim Indonesia justru menjadi salah satu eksportir terbesar dunia. Karenanya, dia yakin, dari segi neraca perdagangan, Indonesia masih diuntungkan lewat produk ikan dan kelautan.

"Produksi kelautan kita tahun lalu mencapai 15,9 juta ton, itu sudah termasuk rumput laut. Pasar kita besar," cetusnya.

Meski demikian Sharif membenarkan bahwa industri pengolahan ikan, membutuhkan pasokan dari luar negeri. Apalagi konsumsi produk perikanan nasional tahun lalu mencapai 8 juta ton. Dia mengatakan impor tak dilarang, asal kuantitas dan kualitasnya dijaga.

"Kita akan menjaga impor, standartnya itu harus standar nasional," ujarnya.

Anggapan Indonesia bergantung pada impor untuk produk olahan ikan dicetuskan oleh Direktur Jenderal Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Saut P Hutagalung.

Dia menyesalkan status Indonesia sebagai negara maritim, justru harus mengimpor ikan untuk kebutuhan industri.

Sepanjang 2012, sebagai contoh, Indonesia mengimpor fillet patin mencapai 700 ton per bulan dari Thailand. Padahal, di dalam negeri sudah ada industri fillet patin dengan kapasitas 350 ton per bulan.

"Di dalam negeri fillet patin harganya Rp 36.000 per kg, sedangkan kalau produk impor hanya Rp 28.000 per kg. Memang saat ini baru ada 6 pabrik pengolahan fillet patin," kata Saut.

Ikan yang tidak ada di perairan Indonesia juga terpaksa diimpor, misalnya salmon. Persoalan lain yang menyebabkan impor perikanan adalah ketiadaan pasokan saat terjadi gelombang besar dan cuaca buruk di Tanah Air. [yud]

Topik berita Terkait:
  1. Kelautan
  2. Cicip Sutardjo
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini