Cerita Pengrajin Bulu Mata Palsu Purbalingga Dipakai Syahrini Hingga Katy Perry

Jumat, 11 Oktober 2019 14:03 Reporter : Merdeka
Cerita Pengrajin Bulu Mata Palsu Purbalingga Dipakai Syahrini Hingga Katy Perry Bulu mata palsu Katy Perry. ©2014 Merdeka.com/favim.com

Merdeka.com - Industri bulu mata palsu Purbalingga terancam sirna. Penyebabnya karena kalah bersaing dengan produk sejenis asal China. Padahal, industri bulu mata Indonesia telah dikenal luas dunia.

Salah satu pengrajin bulu mata palsu itu ialah Siyah (56). Setiap hari dia ditarget 12 bulu mata oleh pengepul. Siyah sudah 15 tahun menjadi buruh plasma bulu mata palsu. Berbeda dengan karyawan pabrik, buruh seperti Siyah ini membuat bulu mata di rumahnya.

Setiap hari hasil karyanya yang dia kerjakan mulai pukul 08.00, dan selesai pukul 17.00 harus diserahkan ke pengepul. Dari pengepul inilah kemudian diserahkan ke pabrik bulu mata yang sebagian besar milik pengusaha Korea Selatan.

Tiap orang berbeda target hariannya. Tergantung kuat tidaknya fisik seseorang untuk duduk lama sambil membuat bulu mata. Setidaknya ada empat klasifikasi target bulanan dan ini berpengaruh terhadap bonus bulanan.

Jika bisa mengerjakan 12 helai akan mendapatkan bonus Rp5.000. Sedangkan, target 17 helai dibayar Rp10.000, 20 helai Rp12.000, dan target 25 helai mendapat Rp14.000. "Kalau saya sudah tua, mata sering sakit dan pusing. Jadi ya ambil target yang paling kecil," kata dia.

Berbeda dengan Siyah, Kadirah (28) berani mengambil target 17 helai sehari. Dia menjadi pengidep untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Meski desa itu terkenal dengan kerajinan anyaman bambunya, hampir sebagian besar perempuan di desa itu bekerja sebagai pengidep. Di desa itu ada delapan pengepul. Satu pengepul biasanya membawahi sekitar 20-30 pengidep.

Kadirah mengatakan setiap helai bulu mata yang berhasil dia kerjakan akan dibayar Rp775. Sedangkan bulu mata dengan tingkat kesulitan sedang, upah satuannya Rp665.

Dalam sebulan, dia bisa mendapatkan upah Rp472.000. Itu sudah termasuk bonus kehadiran senilai Rp1.000 tiap harinya. Jika sehari saja dia tak hadir, maka uang bonus itu akan hangus.

Tak ada BPJS Kesehatan dan Tenaga Kerja yang diberikan oleh perusahaan. Bahkan, seringkali bulu mata itu dikembalikan oleh penyortir dan tanpa mendapat bayaran. "Tergantung mood si penyortir, kalau lagi baik ya diterima semua," ujar dia.

Dia dan teman-temannya sebenarnya sudah pernah ingin membentuk serikat buruh. Namun, niat itu belum kesampaian. Selain kesadaran yang masih rendah, mereka juga takut tidak dipekerjakan lagi oleh pengepul.

"Kami sebenarnya ingin upah naik menjadi Rp1.000 per helai dan ada BPJS Ketenagakerjaan," katanya.

Di pasaran, setelah dikemas dalam pabrik, harganya bisa mencapai Rp300-500 ribu per helai. Apalagi jika sudah dikemas dan diberi merek terkenal, tentu harganya bisa lebih mahal lagi.

Kadirah mengatakan hampir seluruh perempuan di desanya menjadi pengidep untuk bulu mata palsu. Bahkan, mereka yang baru lulus SMP dan tidak punya biaya untuk melanjutkan sekolah, akan menjadi pengidep.

Baca Selanjutnya: Susah Buatnya Murah Harganya...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini