Cerita pedagang Tanah Abang tak masuk e-commerce sebab tak melek internet

Rabu, 3 Januari 2018 15:00 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Online Shop. ©2014 Merdeka.com/frugallivingforlife.com

Merdeka.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan kinerja sektor retail dalam beberapa waktu belakangan telah menunjukkan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan ekonomi. Meskipun, 94 persen perdagangan seperti e-commerce masih didominasi oleh produk yang berasal dari China.

Lantas apa faktor penyebab produk dan pelaku industri dalam negeri enggan masuk ke dalam perdagangan daring atau yang lebih dikenal dengan e-commerce?

Salah satu pedagang mainan di yang ditemui Merdeka.com di Pasar Tanah Abang, Acang, mengakui bahwa dia sendiri belum terlalu melek terhadap e-commerce, seperti bagaimana mekanisme jual beli di dalamnya. Dia menilai, e-commerce dengan keharusan tersambung dengan internet sebagai sesuatu yang asing baginya dan bikin rumit.

"Belum ngerti saya (soal e-commerce), yang internet ya, masih rumit (sulit memahami e-commerce. Bagaimana mau ke sana e-commerce kalau nggak ngerti. Repot, susah," ungkapnya di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (3/1).

Karena itu, pria 41 tahun ini memutuskan untuk berjualan secara offline saja dengan cara duduk dan menunggu pembeli barang dagangan di depan pintu masuk Pasar.

"Saya yang praktis saja (offline). Tunggu orang yang lewat-lewat saja," kata dia.

Ketika dimintai tanggapannya soal banyaknya produk China, terutama produk mainan yang membanjiri pasar Indonesia, Acang mengatakan bahwa hal tersebut lebih disebabkan karena belum kuatnya produksi mainan dalam negeri.

"Memang ada? Setahu saya belum ada. Banyakan dari China," ujarnya.

Karena itu, dia mengharapkan agar pengembangan produk dalam negeri terutama produk mainan lebih ditingkatkan lagi.

"Lebih bagus produk kita lah. Mending jual kita saja. Untuk apa jual dari luar, tapi masih banyak yang dari China," tandasnya. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini