Cerita lucu awal berdiri Kebab Turki Baba Rafi, sempat dikira martabak dan gorengan

Selasa, 27 Februari 2018 07:00 Reporter : Siti Nur Azzura
Cerita lucu awal berdiri Kebab Turki Baba Rafi, sempat dikira martabak dan gorengan Owner and Marketing Director PT. Baba Rafi Indonesia Nilam Sari. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - nama Kebab Turki Baba Rafi memang sudah tidak asing di telinga. Sejak berdiri pada tahun 2003, bisnis waralaba yang didirikan oleh Nilam Sari dan suaminya, Hendy Setiono ini sudah menyebar di berbagai kota hingga ke luar negeri dengan produk andalannya, kebab.

Sebelum memulai bisnis kebab, keduanya sempat mencoba peruntungan dengan menjual burger. Menurutnya, bisnis makanan merupakan bisnis yang sangat mudah dengan modal yang tidak terlalu banyak, dan juga menjanjikan.

"Pada saat itu saya memulai dengan modal Rp 4 juta, yang saat 15 tahun lalu sudah bisa beli gerobak, sewa tempat, bahan baku, dan peralatan awal. Kami menjual saja sesuatu yang simple, yaitu makanan. Kita mulai dengan burger saja dengan nama Yummy Burger. Kita juga mengambil dari supplier. Makin lama makin berkembang burgernya, satu tahun kita buka 6 outlet," kata Nilam kepada merdeka.com.

Sayangnya, bisnis ini tak bertahan lama tergerus persaingan. Bahkan, omzet yang didapat sebesar Rp 400.000 dalam sehari langsung turun drastis menjadi Rp 10.000 hingga Rp 20.000 per hari.

Hingga akhirnya, Nilam memutuskan untuk mengubah strategi untuk menjual makanan yang unik dan belum pernah ada sebelumnya di Indonesia. Di Qatar, Nilam temukan jawabannya.

"Di sana kita selalu menemukan kebab. Jualan kebab itu lucu ya ternyata orang makan kebab tuh tidak harus duduk manis sambil pakai piring dan sendok, mereka itu benar-benar grab and go food. dan dagingnya pun itu besar banget ya unik, dan baunya pun benar-benar menggoda. Terus juga konsep yang baru, belum dikenal di Indonesia," imbuhnya.

Dengan mengadaptasikan rasa kebab yang lebih familiar dengan lidah masyarakat Indonesia, Nilam berhasil mendirikan Kebab Turki Baba Rafi. Di mana Turki berarti makanan Timur Tengah, dan Baba Rafi diartikan sebagai ayahnya Rafi (anak pertama Nilam dan Hendy).

Dalam proses adaptasi tersebut, ada cerita lucu yang masih melekat diingatan Nilam. Kebab yang saat itu masih asing di telinga masyarakat, sempat dikira sebagai martabak dan gorengan.

"Orang-orang yang belum tahu apa itu kebab, ketika mereka datang mereka bilang 'Mbak beli gorengannya' atau 'Mbak martabaknya satu'. Mereka tidak tahu ini kebab," kata Nilam sambil tertawa.

Dengan nama Kebab Turki Baba Rafi, Nilam berharap bisnis kebabnya bisa berkembang dengan pesat. Dia pun mencoba untuk memperluas bisnisnya dengan sistem kemitraan, di mana orang-orang bisa membeli sarana prasarana hingga bahan baku darinya. Hingga akhirnya Kebab Turki Baba Rafi mulai berkembang, dari satu gerobak, bisnisnya bisa merambah menjadi 6 gerobak dengan omzet mencapai Rp 1 juta per hari.

"Dari surabaya kita berkembang, kita ke Malang, Yogyakarta, malah sampai ke Kalimantan, Sulawesi, Aceh, dan tahun 2008 kita mulai masuk Jakarta. Tahun 2009 kita mulai masuk Malaysia, kemudian Filipina, lalu negara lainnya. Alhamdulillah sekarang Baba Rafi sudah ada kurang lebih 1.200 outlet di 9 negara (termasuk Indonesia)," jelasnya.

[azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini