Cabai merah dan beras penyumbang deflasi Mei 2016

Rabu, 1 Juni 2016 14:54 Reporter : Sri Wiyanti
Cabai merah dan beras penyumbang deflasi Mei 2016 Cabai merah. ©2016 merdeka.com/hana adi

Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Mei 2016, telah terjadi inflasi sebesar 0,24 persen. Inflasi secara tahunan menjadi sebesar 3,41 persen.

Kepala BPS, Suryamin menjelaskan, beberapa komoditas penahan laju inflasi bulan lalu antara lain cabai merah dan beras. Cabai merah terpantau menyumbang deflasi 10,4 persen dengan andilnya sebesar 0,06 persen.

"Ini karena beberapa sentra cabai lagi banyak panen. Penurunan di 55 kota IHK. Tertinggi di Bungo 45 persen dan Denpasar 41 persen. Biasanya bikin ulah ini cabai," ungkap Suryamin di Kantornya, Jakarta, Rabu (1/6).

Sementara, beras mengalami perubahan harga negatif 0,5 persen dengan andil deflasi 0,2 persen. Penurunan harga terjadi karena masa panen yang menyebabkan stok beras melimpah.

Tomat dan sayur juga terpantau turun 8,23 persen dengan andil 0,023 persen. Tarif listik 0,35 persen dengan andil 0,01 persen akibat penurunan tarif listrik pasca bayar. Bensin turun 0,23 persen dengan andil 0,01 persen karena pengaruh penurunan harga Pertamax.

Suryamin menambahkan untuk inflasi disumbang oleh beberapa komoditas antara lain daging ayam ras, tarif angkutan udara, gula pasir, telur ayam ras, minyak goreng, rokok kretek filter, emas perhiasan, kentang, wortel, apel, jeruk, rokok kretek, dan tarif kontrak rumah.

"Penyaba utama ini daging ayam ras ada kenaikan harganya rata-rata 17 persen dengan andil 0,08 dan bobotnya 1,21 persen. Kami perkirakan karena menjelang masuknya Ramadan, ini kenaikan 64 IHK. Kenaikan tertinggi di Tanjung Pandan hingga 38 persen dan Jambi 26 persen," papar Suryamin.

Penyebab inflasi berikutnya adalah tarif angkutan udara yang naik hingga 6,59 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,06 persen. Suryamin menjelaskan, kenaikan tarif jasa angkutan terjadi pada saat libur panjang perayaan Waisak dan Isra Miraj.

"Ini sebenarnya ada yang mengatakan daya beli menurun saya enggak melihat itu. Kemarin pas hari libur saja banyak yang menggunakan. Ini kenaikan di 35 kota IHK. Tetinggi di Pontianak dan Singkawang hingga 39 persen," ucap Suryamin.

Penyebab inflasi ketiga adalah kenaikan harga gula pasir yang mencapai 7,4 persen dengan andil 0,04 persen akibat tingginya permintaan menjelang bulan Ramadan namun ketersediaan gula pasir dalam negeri terbatas.

"Ini di 80 kota IHKN hanya dua yang tidak. Sekarang kan pemerintah masih konsen di bawang, padahal bawang enggak ada masalah dari month on month dan skarang sedang ditangani. Tertinggi di Bulukumba naik 19 persen, Sumenep 17 persen. Ini gula penting loh," tegas Suryamin.

Kemudian teluar ayam ras naik 3,12 persen, dengan andil terhadap inflasi 0,02 persen, akibat tingginya permintaan. Kenaikan telur ayam ras terjadi di 61 kota IHK, antara lain di Kupang dan tegal 8 persen.

Minyak goreng, kenaikan harga sebesar 1,73 persen dengan andil 0,02 persen. "Ini karena naiknya harga bahan baku CPO ini, nah disitu saya katakan tadi ada karena CPO naik, ekspor naik. Tapi kita harus kendalikan juga. Ini terjadi kenaikan di 67 IHK. Tertinggi di Padang Sidampuan dan Serang," jelas Suryamin.

Rokok kretek filter mengalami kenaikan dampak adanya perubahan kebijakan Kemenkeu tentang cukai rokok. [bim]

Topik berita Terkait:
  1. Inflasi
  2. BPS
  3. Ekonomi Indonesia
  4. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini