Bulog Diminta Cari Solusi Efektif agar Jutaan Ton Beras Tak Menumpuk di Gudang

Kamis, 27 Juni 2019 10:08 Reporter : Merdeka
Bulog Diminta Cari Solusi Efektif agar Jutaan Ton Beras Tak Menumpuk di Gudang Beras Bulog. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Anggota Komisi IV DPR RI, Andi Akmal Pasluddin meminta Perum Bulog mencari solusi efektif agar jutaan ton beras milik Bulog tidak lagi sekadar menumpuk di gudang. Dia menilai, inovasi yang dilakukan Bulog dengan menjual beras dalam kemasan sachet kurang berhasil untuk mencegah penumpukan di gudang.

"Sekarang menjual dengan sachet, kalah sama pemain besar," kata Andi yang juga merupakan anggota Fraksi PKS ini dikutip dari Antara, Kamis (27/6).

Andi mengusulkan Bulog kembali mendapatkan kewenangan untuk menyalurkan beras bagi program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). "Intinya, bagaimana keluarkan dulu itu beras. Misalnya untuk rastra (beras sejahtera), buat saja aturannya," katanya.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Galuh Octania mengharapkan Bulog mampu memperbaiki manajemen peningkatan kualitas beras. Dengan kualitas yang lebih baik, menurut dia, beras Bulog diyakini bisa langsung dijual atau disalurkan melalui program BPNT.

Selama ini, tambah dia, beras Bulog kurang diminati oleh para penerima manfaat BPNT sehingga pemilik e-warung lebih mengutamakan beras dari non-Bulog. "Penting bagi Bulog untuk meningkatkan daya tarik produknya agar diminati oleh masyarakat, terutama para penerima BPNT," ujarnya.

Saat ini, manajemen untuk sinkronisasi data beras mulai dari stok di gudang, produksi hingga kebutuhan belum terlaksana dengan baik, padahal Bulog juga melaksanakan fungsi pengelolaan cadangan beras.

Pengelolaan cadangan ini penting untuk operasi pasar demi menstabilkan harga pangan dan cadangan negara kalau terjadi kondisi darurat seperti bencana alam.

Namun, pakar pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas mengatakan solusi lain untuk mencegah penumpukan beras dengan melakukan operasi pasar bisa menambah masalah baru.

Menurut Dwi Andreas, operasi pasar yang dilakukan Bulog bisa menekan harga gabah di tingkat petani yang selama ini sudah rendah. "Kalau ada operasi pasar 175.000 ton per bulan, itu pasti berdampak ke petani, padahal sudah tiga bulan ini petani merugi karena harga jual di bawah biaya produksi," ujarnya.

Dia mengatakan fungsi Bulog untuk menyerap gabah dari petani dan mengendalikan harga beras di pasar sudah tidak maksimal dijalankan, apalagi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) menyebut bahwa stok beras di gudang Bulog sebanyak 2,3 juta ton terancam busuk jika tidak segera disalurkan. Jumlah tersebut masih akan bertambah, sebab hingga saat ini pihaknya masih melakukan penyerapan beras dari petani, rata-rata per hari mencapai 10.000 ton.

"Hari ini stok beras di Bulog 2,3 juta ton. Jadi kita tidak perlu impor, bahkan saya mau ekspor. Siapa yang mau beli, saya kasih. Kalau ada yang mau beli 1 juta ton dan saya punya, saya lepas, dari pada busuk di gudang," ujar Buwas disela menghadiri panen padi hasil kerja sama Bulog, Universitas Sebelas Maret (UNS), Ikatan I dan Bank BNI di lahan milik UNS Solo, Jumat (21/6).

Berdasarkan perhitungannya, sampai bulan Juli hingga Agustus stok bisa mencapai 3 juta ton jika tidak ada penyaluran. Gudang Bulog yang kapasitasnya 2,6 juta ton se Indonesia saat ini sudah ada 2,3 juta ton. Sehingga masih tersisa ruang untuk 63 ribu ton lagi.

"Setelah Agustus tidak ada penyerapan lagi, dan jika tidak segera disalurkan tinggal nunggu beras busuk," tandasnya. [idr]

Topik berita Terkait:
  1. Bulog
  2. Impor Beras
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini