Bos BKPM tak tahu Panasonic dan Toshiba hengkang dari Indonesia

Rabu, 3 Februari 2016 12:56 Reporter : Novita Intan Sari
Bos BKPM tak tahu Panasonic dan Toshiba hengkang dari Indonesia Kepala BKPM Franky Sibarany. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Kepala badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Franky Sibarani tak banyak bicara menanggapi bangkrutnya dua perusahaan elektronik raksasa asal Jepang yaitu Panasonic dan Toshiba. Franky mengaku belum mengetahui berita penutupan pabrik dan hengkangnya perusahaan elektronik tersebut.

"Kami harapkan ada pelaporan (penutupan pabrik). Bagi kami, mereka tutup tentu ada keharusan (pelaporan). Setidaknya juga kalau ada perkembangan atau perluasan izin prinsip kami tahu," ujar Franky di kantornya, Jakarta, Rabu (3/1).

Tak mau bicara banyak, Franky kemudian berjanji akan terus berupaya memperbaiki iklim investasi dengan berbagai kebijakan yang memudahkan investor menanamkan modalnya di Tanah Air.

"Awal tahun ini industri elektronik meningkat secara nilai izin investasi (izin prinsip) sebesar 60 persen," jelas dia.

Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyebut dua perusahaan raksasa elektronik asal Jepang, Panasonic dan Toshiba menutup tiga pabriknya di Indonesia dalam kurun waktu Januari-Maret 2016. Lebih dari 2.500 karyawan dipastikan menjadi korban Pemutusan Hubungan kerja (PHK).

Perusahaan elektronik asal negara matahari terbit itu mempunyai enam pabrik. Namun, satu-persatu mulai angkat kaki dalam kurun 10 tahun terakhir.

"Jadi tidak ada lagi pabrik Toshiba. Yang ada Toshiba memproduksi printer di Batam tapi skalanya kecil. Nah, yang tutup ini adalah pabrik televisi Toshiba terbesar di Indonesia, selain di Jepang," kata Iqbal di Jakarta, Selasa (2/2).

Iqbal menegaskan manajemen Toshiba sepakat untuk menutup produksinya pada April 2016. Untuk itu, Said tengah melakukan negosiasi pesangon yang diwajibkan pemerintah.

"Dalam 10 tahun terakhir, ada 13 perusahaan Panasonic di Indonesia. Sebelumnya ada Panasonic komponen sudah ditutup, sekarang tinggal tiga, yakni Panasonic Manufacturing Indonesia (PMI), Panasonic Energy Indonesia yang produksi baterai dan Panasonic Healthcare yang produksi alat kesehatan," kata dia. [idr]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini