Bos BKPM: Investasi di Jawa dan Luar Jawa Imbang di Semester I-2020

Rabu, 16 September 2020 11:08 Reporter : Sulaeman
Bos BKPM: Investasi di Jawa dan Luar Jawa Imbang di Semester I-2020 investasi. shutterstock

Merdeka.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, realisasi investasi di semester I-2020 mencapai Rp 402,6 triliun. Angka ini terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 195,6 triliun atau 48,6 persen, dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp 207 triliun atau 51,4 persen.

"PMA-nya Rp 195,6 triliun atau sama 48,6 persen. Kemudian investasi ini juga sudah mulai mendekati pada apa yang disebut investasi yang berkualitas sebab Jawa dan luar Jawa mulai berimbang," Bahlil dalam HSBC Economic Forum, Rabu (16/9).

Dia menjelaskan, dari nilai realisasi tersebut, investasi untuk Jawa dan Luar Jawa berimbang. Di mana realisasi investasi luar Jawa sebesar Rp 193,7 triliun atau 48,1 persen, sementara untuk Jawa Rp 208,9 triliun atau 51,9 persen.

Menurutnya, data ini memperlihatkan bahwa para investor telah melirik untuk menanamkan modalnya tidak hanya di Jawa namun juga di luar Jawa. Selain itu, berimbangnya investasi di Jawa dan Luar Jawa karena pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara masif di Indonesia.

"Infrastruktur itu lah instrumen awal untuk kemudian bagaimana para investor menarik hatinya untuk bisa melakukan investasi di daerah. Dan tentu dengan melakukan investasi ini mampu mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi termasuk pada pertumbuhan ekonomi Kawasan," ujarnya.

Dia menjelaskan, investasi di kuartal I dan II tahun 2020 sempat landai karena terdampak covid-19. Menurut dia, persoalan soal anjloknya realisasi investasi tidak hanya dialami Indonesia, namun juga dialami oleh banyak negara. Sebab sampai saat ini, belum ada satupun negara yang dianggap mempunyai kebijakan tepat dalam menangani pandemi Covid-19.

"Nah Ini tantangan kita semua, bagaimana untuk mendorong investasi di era pandemi Covid-19. Karena belum ada rumusnya. Bahkan saya ingin mengatakan tidak ada satu negara manapun yang bisa melakukan sebuah strategi yang pas untuk menghadapi eh Kondisi seperti sekarang ini," jelas dia.

Selain itu, kompaknya negara untuk menerapkan kebijakan proteksionisme justru dianggap semakin menekan perekonomian global. Sehingga menimbulkan situasi serba tidak pasti, termasuk dalam aktivitas investasi. Alhasil sejumlah lembaga survei dunia mengumumkan bahwa FDA global terpangkas antara 30 sampai 40 persen.

"Kita tahu semua bahwa semua negara melakukan kebijakan proteksionisme terhadap negaranya, dan hampir semuanya," paparnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini