Bos BI: Dalam Jangka Pendek, Berita Pengaruhi Nilai Tukar Mata Uang

Rabu, 6 Mei 2020 17:12 Reporter : Anisyah Al Faqir
Bos BI: Dalam Jangka Pendek, Berita Pengaruhi Nilai Tukar Mata Uang Gubernur BI Perry Warjiyo. ©handout/Bank Indonesia

Merdeka.com - Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyebut bahwa berita merupakan salah satu faktor mempengaruhi naik turunnya nilai tukar mata uang. Berita merupakan pengaruh teknikal perubahan nilai tukar dalam jangka pendek.

"Dalam jangka pendek memang akan naik turun (nilai tukar mata uang) dipengaruhi faktor teknikal news yang terjadi," kata Perry di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (6/5).

Perry mencontohkan, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS atau USD pekan lalu yang di bawah Rp15.000 per USD. Namun, pada Senin 4 Mei 2020 muncul berita Amerika Serikat dan China yang kembali bersitegang. Presiden Trump menilai ada kemungkinan virus corona masih ada di Wuhan, China. Sehingga Amerika Serikat akan mengenakan biaya tarif.

Lalu ada juga berita ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan di wilayah demiliterisasi. Akibatnya, nilai tukar Rupiah terhadap USD kembali melemah. Termasuk berita Mahkamah Konstitusi Jerman yang menyatakan kebijakan quantitative easing bank sentral setempat tidak konstitusional.

Akibat berita-berita tersebut, nilai Rupiah terhadap USD pada Senin Rp15.050. "Sehingga membuat nilai tukar Rupiah di Senin Rp15.050," kata Perry.

Sementara itu berita tentang adanya pembukaan kegiatan ekonomi di sejumlah daerah di Amerika Serikat membawa dampak positif. Hal yang sama juga terjadi di beberapa negara Eropa.

Selain itu salah anggota The Fed menyatakan pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat akan membaik di Semester II tahun 2020. Meskipun pada Semester I 2020 terjadi resesi dan pertumbuhan ekonomi pada triwulan-I 2020 hanya 0,3 persen.

Kabar ini membuat nilai tukar Rupiah terhadap USD menguat 20bps menjadi Rp15.030. "Hari ini InsyaAllah banyak berita positif sehingga nilai tukar Rupiah di bawah Rp15.000," kata Perry.

1 dari 1 halaman

Fokus Pada Faktor Fundamental

faktor fundamental rev1

Meski begitu, Perry menilai lebih baik melihat faktor-faktor fundamental yang memengaruhi perubahan nilai tukar. Agar bisa menentukan arah kebijakan dan memahami perkembangan yang terjadi.

"Sehingga inflasi rendah, CAD yang semula diperkirakan 2,5-3 persen PDB InsyaAllah di Q1 akan di bawah 1,5 persen PDB dan secara keseluruhan di bawah 2 persen dari PDB," papar Perry.

Termasuk, perbedaan suku bunga pada surat berharga negara (SBN). Saat ini SBN di Indonesia sudah berjangka waktu 10 tahun dengan yield mencapai 8 persen. Berbeda dengan Amerika Serikat yang yield SBN berkisar 0-0,4 persen.

Perbedaan yang lebih dari 7,5 persen ini sangat diminati oleh investor asing. Perry meyakini investor lebih tertarik menanamkan modalnya di Indonesia. Sehingga dia meyakini jika pandemi ini berakhir, akan banyak aliran modal asing yang masuk ke Indonesia dan memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar.

"Kalau masalah Covid-19 ini mulai stabil, ini akan membawa inflow ke depan dan mendukung nilai tukar Rupiah," kata Perry mengakhiri. [idr]

Baca juga:
Cetak Uang untuk Tangani Virus Corona Dinilai Bisa Picu Inflasi yang Tinggi
BI Prediksi Pertumbuhan Kuartal II-IV 2020 Sebesar 0,4, 1,2 dan 3,1 Persen
Gubernur BI: Kami Akan Beli SBN Pemerintah di Pasar Primer Maksimal Rp125 T
Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I-2020 Dinilai Lebih Baik dari China Hingga AS
BI Lakukan Pelonggaran Kuantitatif, Suntikan Likuiditas Bank Rp503,8 T
Bos BI Akui Salah Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal I-2020

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Rupiah
  3. Bank Indonesia
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini