Bisnis pria putus sekolah ini terus cetak uang meski tengah tidur

Jumat, 3 Agustus 2018 08:00 Reporter : Merdeka
Bisnis pria putus sekolah ini terus cetak uang meski tengah tidur ilustrasi orang kaya. © nocookie.net

Merdeka.com - Trevor Chapman, pada 13 tahun silam, menjadi satu dari sekian banyak mahasiswa putus kuliah di Amerika Serikat (AS). Pada saat itu, ddia memutuskan untuk menjual alat pengendalian hama demi menyambung hidup.

Tahun-tahun berlalu. Dia akhirnya sukses meluncurkan suatu perusahaan instalasi panel surya. Secara masif, bisnisnya berkembang hingga di tiga negara bagian AS.

Walau kesuksesan itu harus dibayar dengan waktu yang mengharuskan dia mengurus bisnisnya lebih dari 12 jam sehari. Sampai kemudian, kutipan dari pebisnis Warren Buffett memberinya inspirasi untuk melakukan inovasi pemasaran yang baru.

"Jika tidak menemukan cara untuk menghasilkan uang saat tidur, Anda akan bekerja sampai Anda mati," begitu bunyi wejangan Buffett yang terus terngiang di telinga Chapman.

Mencoba Bisnis Daring

Chapman yang bertekad tidak mau bekerja sampai mati, akhirnya menemukan solusi untuk mendapatkan penghasilan pasif yaitu melalui e-commerce. Dari sejumlah literatur yang dibacanya, Chapman meyakini e-commerce akan terus tumbuh menjadi bisnis yang besar.

Salah satu riset yang dibacanya menyebutkan penjualan ritel daring global tumbuh sebesar 20 persen dari USD 1,9 triliun menjadi USD 2,3 triliun pada 2015.

Tapi sebelum ddia benar-benar berpikir untuk meninggalkan pekerjaannya, Chapman ingin melihat sendiri apakah mungkin dia dapat menjual barang secara daring?

"Ini membutuhkan bekerja seperti bisnis yang lainnya, tetapi Anda tidak harus mengambil risiko pekerjaan penuh waktu untuk melakukan ini," kata pengusaha 34 tahun itu.

Chapman hanya menghabiskan beberapa jam saja di malam hari saat memulai bisnis daring ini, dengan investasi hanya sebesar USD 200. Dia membeli nama domain seharga USD 2,99 per tahun dan membuat akun Shopify melalui uji coba senilai USD 14.

Hal yang paling mahal adalah ketika dia mulai menghabiskan USD 100 sehari untuk mempromosikan laman LDSman.com miliknya lewat Facebook. Hal tersebut dilakukannya sejak 11 November 2016 silam.

Awalnya, dia mengaku menjual produk yang salah. "Awalnya saya menjual karya seni Mormon secara daring. Itu mungkin baru 10 jam ada calon pembeli yang tertarik," katanya.

"Saya akhirnya menyadari bahwa apa yang saya jual tidak cukup menarik bagi pembeli."

Chapman kemudian menghabiskan waktu di ruang kerjanya untuk memikirkan produk apa yang menarik banyak pembeli yang gemar berselancar di dundia maya. Dia menggunakan pelajaran dari produk panel surya yang sempat dijualnya dari pintu ke pintu beberapa tahun lalu.

Sampai akhirnya Chapman berkesimpulan produk tersebut harus cukup menarik bagi orang untuk mengundang Anda ke rumah mereka. "Hal yang sama harus dilakukan secara daring, yaitu Anda harus menawarkan suatu produk yang menarik," ujarnya. [bim] SELANJUTNYA

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini