Bidik pasar dunia, ekspor batik RI di semester I-2017 capai Rp 527 miliar

Rabu, 27 September 2017 13:00 Reporter : Anggun P. Situmorang
Bidik pasar dunia, ekspor batik RI di semester I-2017 capai Rp 527 miliar batik. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor batik dan produk batik sampai dengan semester I-2017 mencapai USD 39,4 juta atau setara Rp 527 miliar dengan tujuan pasar utama ke Jepang, Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Capaian tersebut menandai bahwa industri batik nasional memiliki daya saing yang komparatif dan kompetitif di pasar internasional.

"Indonesia telah menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia. Makanya, batik yang menjadi identitas bangsa kita, semakin populer dan mendunia," ujar Sekjen Kementerian Perindustrian Haris Munandar melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (27/9).

Haris mengatakan saat ini batik bertransformasi menjadi beragam bentuk produk seperti pakaian, kerajinan dan dekorasi rumah yang telah mampu menyentuh lapisan masyarakat luas dari berbagai kelompok usia, golongan, dan pekerjaan. "Bahkan, tokoh-tokoh dunia seperti Barrack Obama dan Bill Gates senang menggunakan batik. Kita rakyat Indonesia, juga harus bangga menggunakan batik," kata Haris.

Haris menjelaskan, industri batik selama ini memiliki peran penting sebagai penggerak perekonomian regional dan nasional, penyedia lapangan kerja, serta penyumbang devisa negara. Kemenperin mencatat, pelaku usaha batik di Indonesia didominasi oleh sektor IKM yang tersebar di 101 sentra yang sebagian besar tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta.

Jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik mencapai 15.000 orang. Selain meningkatkan kompetensi SDM, Kemenperin juga aktif melaksanakan pengembangan kualitas produk, standardisasi, serta fasilitasi mesin dan peralatan untuk memacu daya saing dan kapasitas produksinya.

"Kami pun telah mendorong pelaku industri batik agar memanfaatkan berbagai fasilitas pembiayaan seperti KUR, LPEI dan insentif lain untuk memperkuat struktur modalnya,” jelas Haris.

Sementara itu, Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengemukakan, pelaku IKM nasional akan segera memanfaatkan platform digital untuk menjangkau konsumen semakin besar.

"Selain memfasilitasi melalui kegiatan promosi dan pameran, yang tidak kalah penting adalah kami telah memiliki program e-Smart IKM untuk peningkatan akses pasar mereka terutama di pasar online yang potensinya sangat besar," jelas Gati.

Regenerasi pembatik dalam upaya pengembangan industri batik nasional secara berkelanjutan pihaknya berupaya meregenerasi perajin batik. Alasannya, sebagian besar pembatik di Indonesia telah berusia di atas 40 tahun.

“Kami melihat, jumlah anak muda yang mau menjadi perajin batik masih sangat terbatas. Untuk itu, regenerasi menjadi hal yang penting untuk menjaga keberlanjutan industri batik,” tandasnya. [sau]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini