BI Pede Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,5 Persen di Kuartal III-2022, Ini Faktor Pemicunya

Sabtu, 1 Oktober 2022 18:30 Reporter : Sulaeman
BI Pede Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,5 Persen di Kuartal III-2022, Ini Faktor Pemicunya pertumbuhan ekonomi. merdeka.com /Arie Basuki

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) optimis ekonomi Indonesia kuartal III-2022 tumbuh lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya, meskipun nilai tukar Rupiah anjlok menghadapi mata uang Dolar Amerika Serikat (USD). Pada penutupan perdagangan Jumat (30/9) kemarin, Rupiah ditutup menguat 35 poin dilevel Rp15.227 per USD.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Wahyu Agung Nugroho optimis, ekonomi Indonesia mampu tumbuh mencapai 5,5 persen di kuartal III-2022. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2022 diprakirakan tetap bias ke atas dalam kisaran proyeksi Bank Indonesia pada 4,5 sampai 5,3 persen.

"Kami yakin, ekonomi Indonesia triwulan III (2022) masih akan lebih baik dari pada triwulan II," kata Wahyu dalam acara Pelatihan Wartawan Ekonomi di kawasan Ubud Bali, Sabtu (1/10).

Dia menyampaikan, optimisme tersebut didasari atas kondisi fundamental ekonomi nasional yang kuat. Hal ini tercermin dari Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) terus membaik sejalan dengan kinerja ekspor yang kuat.

Kinerja transaksi berjalan triwulan III-2022 diperkirakan tetap kuat ditopang oleh peningkatan kinerja ekspor seiring dengan masih kuatnya permintaan beberapa mitra dagang utama, dukungan kebijakan Pemerintah untuk mendorong ekspor, dan masih tingginya harga komoditas global.

Selain itu, berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik tersebut tercermin pada perkembangan beberapa indikator dini pada Agustus 2022 dari hasil survei Bank Indonesia, seperti keyakinan konsumen, penjualan eceran, dan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang terus membaik.

2 dari 2 halaman

Sisi Eksternal

Dari sisi eksternal, kinerja ekspor diprakirakan tetap baik, khususnya CPO, batu bara, serta besi dan baja seiring dengan permintaan beberapa mitra dagang utama yang masih kuat dan kebijakan Pemerintah untuk mendorong ekspor CPO dan pelonggaran akses masuk wisatawan mancanegara.

Kemudian, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD juga masih lebih baik ketimbang sejumlah negara berkembang lainnya. Per 21 September 2022, Rupiah terdepresiasi 4,97 persen secara year to date (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2021, relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 7,05 persen, Malaysia 8,51 persen, dan Thailand 10,07 persen.

Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi. [idr]

Baca juga:
Ancaman Resesi Bisa Berdampak ke Pertumbuhan Ekonomi RI
INFOGRAFIS: Was-Was Resesi Ekonomi 2023
Terungkap, Ini Strategi Pemerintah agar Ekonomi Tetap Tumbuh di Tengah Ancaman Resesi
Ada Ancaman Resesi, Kemiskinan RI Bisa Turun Hingga 7,5 Persen?
Gejolak Harga Komoditas Masih Jadi Tantangan di 2023

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini