BI optimistis tekanan pada Rupiah mereda pada 2019, ini alasannya

Kamis, 27 September 2018 16:52 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
BI optimistis tekanan pada Rupiah mereda pada 2019, ini alasannya Rapat kerja bahas RUU APBN 2019. ©2018 Liputan6.com/JohanTallo

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) optimistis tekanan pada nilai tukar Rupiah akan melemah di tahun depan. Optimisme tersebut tidak lepas dari beberapa faktor pendukung.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan faktor pertama adalah kepastian akan terjadinya normalisasi kebijakan moneter di negara-negara maju.

"Mulai tahun depan sejumlah bank sentral lain itu kan juga mulai merencanakan atau bahkan mulai mengimplementasikan normalisasi kebijakan moneternya, khususnya di paruh kedua tahun depan, Eropa, Jepang atau yang lain sejumlah bank sentral negara maju," kata Perry di Kantornya, Jakarta, Kamis (27/9).

Hal tersebut dipastikan akan membuat Dolar tidak seperkasa tahun ini. Beberapa mata uang lain akan kembali menguat dan menyaingi mata uang negara Paman Sam tersebut. "Oleh karena itu yang terjadi normalisasi kebijakan moneternya bukan hanya Amerika, tetapi juga bank sentral lain sehingga ini juga akan mengurangi kekuatan Dolar. Sekarang kan Dolar paling kuat, tahun depan akan ada saingannya oleh mata uang-mata uang lain," ujar Perry.

Faktor selanjutnya adalah perubahan perilaku investor global. Di mana mereka akan mulai menaruh kembali dana yang sempat mereka tarik dari negara berkembang. Sebelumnya, investor global menarik dana mereka dari negara-negara berkembang sebagai respon dari ketidakpastian global serta keagresifan The Fed dalam menaikkan suku bunga acuannya.

"Ini saja sudah mulai mereka sedikit-sedikit kembali berinvestasi di emerging market. nah mulai tahun depan, itu Perilaku yang seperti ini akan semakin kuat dan karena itu juga memberikan faktor positif bagi kembalinya arus modal asing dari global ke emerging market termasuk Indonesia," tutur Perry.

Faktor terakhir adalah dari aspek domestik atau internal. Di mana diperkirakan pada tahun depan defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) yang saat ini tengah membengkak akan kembali normal. "Kami sampaikan tekanan dari neraca pembayaran kan jauh lebih rendah, 2,5 persen terhadap PDB sehingga tentu saja kebutuhan valasnya dalam negeri juga akan lebih rendah. Berbagai faktor ini kenapa waktu itu di DPR kami sampaikan kami perkirakan 2019 itu tekanan terhadap Rupiah nya akan lebih rendah," tutupnya.

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini