BI Diproyeksi Kembali Pangkas Suku Bunga Acuan

Selasa, 20 Agustus 2019 14:30 Reporter : Merdeka
BI Diproyeksi Kembali Pangkas Suku Bunga Acuan Gedung Bank Indonesia. Merdeka.com / Dwi Narwoko

Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih akan kembali memangkas suku bunga acuannya pada tahun ini. Hal ini seiring dengan tingkat inflasi yang rendah dan adanya kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Peluang pemangkasan suku bunga lebih lanjut tercermin dari real interest rate Indonesia yang tinggi dan yield spread antara obligasi Pemerintah Indonesia dengan US treasury yang masih lebar," kata Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Katarina Setiawan, di Jakarta, Selasa (20/8).

Katarina melanjutkan, penurunan suku bunga BI dapat tercapai dengan dukungan stabilitas neraca pembayaran (balance of payment/BoP). Sedangkan BoP dan perbaikan defisit neraca transaksi dapat dicapai dengan meningkatnya PMA atau penanaman modal asing.

"Dibandingkan negara ASEAN lainnya, penetrasi PMA terhadap PDB Indonesia merupakan yang terendah yaitu sekitar 1,9 persen. Stabilitas politik dan reformasi kebijakan yang terjadi pasca putusan MK mengenai pilpres diharapkan dapat mendorong masuknya PMA," ujarnya.

Selain itu, dia juga memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed juga akan melonggarkan kebijakannya, akibat adanya ketidakpastian di pasar global terkait konflik dagang, geopolitik, hingga kebijakan suku bunga menekan sentimen bisnis dan tingkat inflasi global.

"Inflasi yang rendah dan terus berada di bawah target membuat The Fed mengubah postur kebijakannya menjadi lebih akomodatif. Kondisi ini menciptakan lower rate for longer (tingkat suku bunga di level rendah secara berkepenjangan)," tuturnya.

Oleh sebab itu, pemotongan suku bunga The Fed akan membawa mayoritas bank sentral di dunia untuk ikut melanjutkan pelonggaran moneter. "Pelonggaran moneter global akan memberikan dukungan bagi perekonomian global dan Indonesia di paruh kedua 2019, terutama jika tensi dagang AS-China ada perbaikan," ujarnya.

"Selain itu, penurunan Fed Rate akan menopang pasar saham global terutama negara berkembang karena secara historis, 245 hari setelah penurunan suku bunga 1989, 1995, 1998, 2001 dan 2007 pasar saham Asia menunjukan kinerja yang lebih tinggi secara rata-rata dibandingkan pasar AS (S&P 500), yaitu 19,9 persen dibanding 6,7 persen," tandasnya.

Reporter: Bawono Yadika

Sumber: Liputan6.com [azz]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini