Berusia 94 Tahun, Ini Rahasia PLTA Lamajan Tetap Awet Muda

Rabu, 15 Mei 2019 12:59 Reporter : Merdeka
Berusia 94 Tahun, Ini Rahasia PLTA Lamajan Tetap Awet Muda General Manager Unit Pembangkitan Saguling Rusdiansyah. ©Liputan6.com/Ayu Lestari

Merdeka.com - PLTA Lamajan, salah satu Sub Unit Pembangkit Tenaga Listrik Saguling ini masih kokok berdiri dan beroperasi meski sudah berusia hampir satu abad. PLTA yang berlokasi di Pengalengan, Kabupaten Bandung Selatan, Jawa Barat ini sudah ada sejak 1924 namun baru beroperasi pada 1925.

General Manager (GM) Unit Pembangkitan Saguling Rusdiansyah mengatakan PLTA ini merupakan bagian dari UP Saguling salah satu pembangkit yang turut menyuplai kebutuhan listrik di Pulau Jawa dan Bali.

Meskipun telah berusia hampir satu abad, PLTA ini tetap beroperasi baik hingga saat ini. Tidak hanya itu saja, kabarnya PLTA ini juga baru satu kali mengalami renovasi pada 1993, namun bukan renovasi besar melainkan hanya menambahkan daya kapasitas turbin.

Hal ini tentu menjadi sebuah pertanyaan, bagaimana bisa PLTA yang berusia hampir satu abad ini masih bisa berdiri kokoh dan dapat berfungsi dengan begitu baik hingga hari ini.

Meski baru mengalami satu kali renovasi, Rusdiansyah mengaku ada sedikit kendala dalam merawat PLTA peninggalan Belanda ini.

"Mungkin kendala dari pemeliharaannya itu dari sisi spare part ya. Karena spare part yang sudah berumur ini sudah susah dicari ya di pasaran," ujarnya di Pengalengan, Kabupaten Bandung Selatan, Jawa Barat, Rabu (15/5).

Untuk itu, para teknisi PLN UP Siguling selalu melakukan peremajaan spare part meski tak menggunakan spare part asli. Hal ini dibenarkan oleh Manager Operasi dan Pemeliharaan UP Saguling Ade Tatang Mulyana jika spare part yang digunakan saat ini bukan lagi spare part asli.

Sebab, pada tahun 1990-an PLTA Lamajan mendapat bantuan dari Uni Eropa berupa spare part dengan teknologi baru. "Jadi mau enggak mau cikal bakal otomatisasi sudah ada,' ujarnya.

Menurut Ade, satu-satunya PLTA yang masih menggunakan spare part dan mesin asli sejak zaman Belanda adalah PLTA Bengkok. Di sana semua proses pun masih dilakukan manual. Sedangkan PLTA Lamajan sudah menggunakan teknologi yang lebih mutakhir.

"Bisa dibilang lebih modern meskipun PLTA Lamajan masih pakai mesin yang lama," jelas Ade.

PLTA Lumajan ini memiliki tiga buah turbin. Menurut catatan PLN, turbin pertama dan kedua dibangun pada 1924 dan beroperasi pada 1925. Sedangkan turbin ketiga dibangun sepuluh tahun kemudian yaitu pada 1934 dan mulai berfungsi pada 1935.

Selain penambahan kapasitas, di tahun 1993, PLTA Lamajan juga mengalami perubahan sistem dari manual menjadi otomatis. Saat ini sistem yang digunakan adalah automatic voltage ring (AVR) atau sistem yang bisa mengatur tegangan dan debit air secara otomatis.

Banyaknya daya listrik yang dihasilkannya pun tergantung dari curah hujan yang ada. Namun, saat musim kemarau tiba perkiraan jumlah daya listrik yang dihasilkan yaitu berkisar 50 persen dari jumlah energi keseluruhan yang mencapai 19,56 MW.

"Kalau lagi musim kemarau sekitar 50 persen, tapi berhubung sekarang curah hujannya termasuk sering jadi bisa lebih dari 50 persen itu," tandasnya.

Reporter: Ayu Lestari

Sumber: Liputan6.com [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini