Berikut Cara Khusus Fintech Amertha Tagih Nasabah Pinjaman Online

Rabu, 10 April 2019 15:05 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Berikut Cara Khusus Fintech Amertha Tagih Nasabah Pinjaman Online CEO dan Founder Fintech Amartha Andi Taufan Garuda Putra. ©2019 Merdeka.com/Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Perusahaan financial technology (fintech), khususnya fintech Peer-to-Peer (P2P) lending terus mengalami perkembangan. Namun, di tengah perkembangan pesat tersebut, terdapat sejumlah catatan negatif. Salah satunya terkait cara penagihan utang yang dinilai 'kasar'.

PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), salah satu pionir layanan fintech Peer-to-Peer (P2P) lending, menyatakan bahwa pihaknya menjalankan langkah yang lebih humanis, dalam menagih angsuran. Vice President of Growth Amartha, Fadilla Tourisqua Zain, mengatakan para peminjam wajib masuk dalam kelompok yang terdiri dari 15-20 orang.

"Syarat kalau dia mau pinjam dari Amartha harus perempuan. Mereka harus buat kelompok 15-20 orang," kata dia, di Jakarta, Rabu (10/4).

Melalui kelompok tersebut, berbagai hal dilakukan. Mulai dari akses pinjaman, edukasi, hingga penagihan angsuran. Yang menarik dari sistem penagihan di Amartha adalah anggota kelompok juga ikut bertanggung jawab terhadap pinjaman anggota. Ini sudah disetujui oleh semua anggota kelompok.

"Diberitahukan kalau hari Sabtu ada yang belum bisa bayar dibantu ya. Angsuran mereka disampaikan seminggu sekali. Ada yang namanya tanggung renteng. Kalau yang satu belum bisa bayar 14 lain patungan," jelas dia.

"Nanti cara yang satu itu ganti bagaimana? Bisa dengan uang, bisa juga dengan cara ngirim nasi uduk ke 14 orang itu satu porsi bisa kan Rp 7.000, Rp 10.000 ke sana. Jadi ada kearifan lokal," imbuhnya.

Tak hanya itu. Kelompok juga menjadi sarana untuk edukasi. Pihaknya kerap memberikan edukasi maupun pelatihan kepada peminjam, yang semuanya memang terdiri dari perempuan pengusaha mikro dan kecil.

"Kita beri tahu kalau dagang ketoprak sehari dapat Rp 100.000 sisihkan Rp 20.000 untuk cicilan, Rp 30.000 untuk bayar utang lain, Rp 50.000 buat keperluan lain. Sederhana tapi kita yakin ini bisa membangun habit dan kedisiplinan peminjam," tandasnya.

Strategi Jaga Tingkat Kredit Macet

CEO dan Founder Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menambahkan pihaknya terus berupaya untuk menekan angka kredit macet alias non performing loan (NPL). Saat ini, rasio NPL Amartha berada di kisaran 1 persen.

Dia mengatakan fintech yang berfokus pada pinjaman produktif dan menyasar peminjam dari kalangan perempuan pengusaha mikro dan kecil ini amat mengedepankan aspek kualitas dari pada kuantitas.

Artinya pihaknya lebih menekankan bahwa peminjam memang mampu membayar pinjaman dibandingkan meningkatkan jumlah peminjam. Diharapkan dengan demikian, lender mendapatkan kepastian dalam berinvestasi.

"Kita lebih penting kualitas. Setiap borrower yang mengajukan pinjaman punya kualitas kredit yang bagus dan itu yang terus dijaga sama kita," ungkapnya.

Hal ini, kata dia, berdampak pada lancarnya proses pinjam-meminjam di platform-nya. Peminjam dapat dengan mudah mendapatkan peminjam. "Kita sehari bisa ajukan sampai 500 calon dan habis (dapat pinjaman) semua," ujarnya.

"Kita juga ada agen di lapangan ya. Jadi di daerah yang belum ada bank sekalipun, masyarakat tidak perlu harus ke bank. Kita (agen) yang nanti ke bank," tandasnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran pinjaman fintech peer to peer lending hingga Februari 2019 tumbuh pesat. Namun, OJK juga mencatat non performing loan (NPL/rasio pinjaman bermasalah) dari 99 fintech lending terdaftar sudah berada di kisaran 3 persen.

Pada Februari 2019, rasio pinjaman macet lebih dari 90 hari sebesar 3,18 persen. Sedangkan untuk rasio pinjaman kurang lancar dari 30 hari hingga 90 hari di 3,17 persen.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengatakan akan terus mengawasi kinerja fintech. Sebab jika kinerja fintech bermasalah, misalnya NPL-nya tinggi, maka yang rugi adalah investor alias pemberi pinjaman (lender).

"Fintech kita awasi. Tapi fintech ini risiko providernya itu kalau terjadi NPL itu adalah risiko investornya atau lendernya. Jadi silakan saja para pemberi pinjaman ke fintech investor mempertimbangkan," kata dia.

"Itu memang risikonya besar. Potensi NPL pasti besar. Sehingga yang berpikir adalah orang yang investasi dalam peminjam Fintech," lanjut Wimboh.

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini