Berdampak ke Ekonomi, 5 Pro Kontra Opsi Lockdown Tangkal Virus Corona

Rabu, 18 Maret 2020 06:00 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo
Berdampak ke Ekonomi, 5 Pro Kontra Opsi Lockdown Tangkal Virus Corona Jokowi buka Rapat Kerja Kemendag 2020. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Pemerintah saat ini disodorkan pilihan untuk melakukan lockdown atau isolasi. Hal ini sebagai tindak pencegahan penyebarluasan virus corona di Indonesia.

Namun, Presiden Joko Widodo mengaku belum terpikirkan untuk melakukan lockdown seperti negara lain. "Belum terpikir ke arah sana," kata Jokowi usai meninjau Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona (Covid-19), Achmad Yuri, menjelaskan saat ini Indonesia belum membuka opsi lockdown untuk pencegahan virus. Dia menjelaskan jika dilakukan seperti Italia, masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa.

"Kita tidak akan membuka opsi lockdown. Karena kalau di-lockdown malah kita tidak bisa berbuat apa-apa," ungkap Yuri di Kantor Presiden, Jakarta Pusat.

Namun keputusan tersebut belum final. Karena hal tersebut akan dikoordinasi kembali. "Tetapi tentunya ini akan menjadi keputusan bersama yang akan segara dikoordinasikan di tingkat kementerian," ungkap Yuri.

Berikut pro kontra pilihan lockdown dan dampaknya pada ekonomi Indonesia.

1 dari 5 halaman

1. Lockdown Efektif Perlambat Corona Tapi Berdampak ke Ekonomi

efektif perlambat corona tapi berdampak ke ekonomi rev1

Disinggung langkah preventif, JK menyinggung soal Lockdown tau mengisolir wilayah. Hal tersebut dianggap sebagai langkah cukup efektif memperlambat penyebaran virus Corona. Beberapa negara yang sudah menerapkan lockdown atau mengisolasi wilayahnya antara lain, China, Italia, hingga India. Namun harus ada kesiapan matang bila ingin menerapkan itu.

"China berhasil memperlambat meski tidak mencegah 100 persen. Lockdown itu harus sangat disiplin negara yang bisa melaksanakan itu. Indonesia kalau diinstruksikan pasti bisa. Tapi harus siap memang seperti ekonominya dan macam-macam lainnya," kata JK.

2 dari 5 halaman

2. Pembatasan Aktifitas Lebih Efektif dari Lockdown

aktifitas lebih efektif dari lockdown rev1

Menurut Menko Luhut, isolasi atau lockdown masih belum perlu dilakukan. Tiap negara memiliki masalah yang berbeda dalam penanganan menjalarnya covid-19.

Apalagi dalam proses pengambilan kebijakan, Presiden Jokowi mendengarkan semua masukan dari berbagai pihak dan kalangan. Sehingga bisa mengambil keputusan dengan cermat dan bijak.

"Kalau ada komentar hanya satu angle, kita lihat dari berbagai angle untuk kepentingan nasional," kata Menko Luhut.

Di Indonesia, semua masih bisa terkontrol dengan baik dan aman. Kebijakan sekolah dan bekerja dari rumah sudah tepat dilakukan dalam kondisi saat ini.Bahkan Luhut menilai cara seperti ini dianggap lebih efisien dalam dunia kerja.

"Semua sudah sangat baik, tinggal belajar ke depan artinya melakukan pertemuan seperti ini," kata Menko Luhut.

3 dari 5 halaman

3. Dahulukan Keselamatan Konsumen, Pengusaha Minta Lockdown

keselamatan konsumen pengusaha minta lockdown rev1

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, pihaknya telah bertemu langsung dengan Presiden Jokowi pada Rabu (11/3) menyampaikan usulan pemberlakuan status lockdown. Hal tersebut dalam menyikapi pandemi Virus Corona yang mulai meresahkan masyarakat Indonesia.

"Ya kan kita lihat begini, semua kalau perlu dilakukan (lockdown) seperti sekolah, universitas, untuk diliburkan terlebih dahulu," kata Rosan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, Sabtu (14/3).

Pemberlakuan status tersebut, diharapkan dapat menekan penularan Covid-19 yang rentan terjadi dititik orang banyak berkumpul. "Kita bicarakan kemungkinan (lockdown), kita diskusi lah," imbuhnya.

Rosan juga meminta pemerintah untuk lebih memprioritaskan keselamatan masyarakat Indonesia dari pandemi virus Corona yang semakin meluas di berbagai wilayah nusantara.

4 dari 5 halaman

4. Lockdown Negara Bikin Kepanikan di Pasar Keuangan

negara bikin kepanikan di pasar keuangan rev1

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyarankan agar pemerintah tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan untuk melakukan lockdown karena 70 persen uang juga berputar di Jakarta, seperti ada bursa efek, ada bank sentral.

"Terlalu beresiko kalau kita mengambil langkah lockdown. Ini akan memicu kepanikan di pasar keuangan. Maklum 38 persen surat utang dipegang oleh asing. Kalau serempak keluar karena panik tentunya. Indonesia bisa krisis karena lockdown di Jakarta," ungkapnya.

Bahkan, negara China tidak melakukan lockdown keseluruhan, hanya di episentrum wabah corona yakni di provinsi Hubei. "Apakah Shanghai dan Beijing di lockdown juga? Setahu saya tidak. Apalagi ekonomi Indonesia secara struktur tidak sekuat China, tentu cukup berbahaya kalau sekedar ikut ikutan China," ujarnya.

Menurutnya, langkah yang lebih bijak adalah Singapura, bukan dengan lockdown tapi membatasi aktivitas warga lansia, karena ini yang paling rentan terinfeksi virus corona.

"Acara yang melibatkan orang banyak ditunda dulu meskipun acara keagamaan. Jadi clear tidak perlu lockdown, dan penyebaran corona bisa dicegah dengan strategi yang tepat sasaran," pungkasnya.

5 dari 5 halaman

5. Perlambatan Ekonomi Suatu Keniscayaan

ekonomi suatu keniscayaan rev1

Ekonom sekaligus Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah Redjalam, menilai perlambatan ekonomi akibat virus corona adalah suatu yang tidak bisa lagi dielakkan.

"Yang harus dilakukan adalah seperti China, Italia, dan negara lain, yang fokus kepada keselamatan bangsa dari ancaman virus corona," ujarnya.

Meskipun, sekarang ini semua sektor akan potensial terganggu jika dilakukan lockdown, seperti beberapa sekolah, universitas, badan usaha, dan lainnya, akan berhenti karena tidak tahan tekanan, dan mengubah pendekatan dari offline menjadi online.

"Menurut Saya pemerintah sebaiknya fokus mengatasi penyebaran wabah dengan lockdown serta meningkatkan fasilitas kesehatan bagi Masyarakat, artinya stimulus harus diprioritas untuk membiayai kesehatan Masyarakat, bukan untuk menahan perlambatan ekonomi, karena perlambatan ekonomi itu adalah keniscayaan," pungkasnya.

[bim]

Baca juga:
Kasus Positif Corona di Indonesia Bertambah Jadi 172
IHSG Turun 5 Persen, BEI Kembali Bekukan Sementara Perdagangan
Kasus Positif Corona di Semarang Meninggal Dunia
Antisipasi Corona, Pusat Perbelanjaan Sarinah Disterilkan
Jubir Penanganan Covid-19: Demi Bisnis, Banyak RS Tolak jadi Rujukan Pasien Corona
Suspect Corona di Sumut Melonjak Jadi 75 Orang, 1.000 Ruang Isolasi Disiapkan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini