BEI Gandeng IAI Dalami Standar Akuntansi Garuda Indonesia

Jumat, 10 Mei 2019 12:02 Reporter : Merdeka
BEI Gandeng IAI Dalami Standar Akuntansi Garuda Indonesia Garuda Indonesia. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan bertemu Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) untuk mendalami laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) siang ini. Di mana, sebelumnya Garuda Indonesia mengklaim laporan keuangan tahun 2018 telah sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) nomor 23.

"Hari ini saya akan ketemu dengan ketua dewan standar untuk IAI, sebelumnya IAPI. Prosesnya tetap berjalan yang kita harapkan informasi kita guide semua dan pihak yang menaungi IAPI yang mengeluarkan standar PSAK 23 kita akan ketemu hari ini," kata Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna di Gedung BEI, Jumat (10/5).

Nyoman menambahkan, pihak BEI akan berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait standar akuntansi keuangan yang diklaim manajemen Garuda Indonesia. "Yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, proses pendalaman masih jalan," tambah dia.

"Yang penting adalah bagaimana penguatan dari sisi standar itu sendiri. Karena kan rujukannya standar yang paling penting adalah intensi manajemen pada saat proses recognition pengakuan dari transaksi ini," ujarnya.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku tengah mendalami laporan keuangan Garuda Indonesia. Saat ini, OJK telah mengumpulkan informasi secara lengkap untuk dapat meneliti lebih jauh terkait persoalan laporan manajemen Garuda tersebut.

"Kita masih pelajari, kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Belum ada kesimpulannya," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen kepada wartawan di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (9/5).

Hoesen mengatakan, pihaknya juga telah bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menjadi penengah dalam kisruh laporan keuangan Garuda Indonesia. Seluruh informasi yang berkaitan dengan perseroan, laporan keterbukaan di BEI, serta public expose akan dipelajari untuk mengetahui dengan jelas kondisi perseroan.

Hoesen mengatakan, penyelesaian akhir dari masalah tersebut bukan dengan proses audit ulang yang dilakukan oleh OJK. Menurutnya OJK dapat meminta pihak lain untuk melakukan audit.

"Fungsi OJK itu ada dua. Untuk yang prudensial dan non prudensial. Prudensial ya untuk semua pihak yang mendapat izin dari OJK. Tapi, kalau non prudensial seperti izin usaha semacam Garuda, itu dia diperlakukan sebagai emiten," ujarnya.

Reporter: Bawono Yadika

Sumber: Liputan6.com [azz]

Topik berita Terkait:
  1. BEI
  2. Garuda Indonesia
  3. BUMN
  4. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini