Begini Jurus Menhub Budi Genjot Jumlah Wisatawan Asing Masuk Bali

Jumat, 26 Juli 2019 14:19 Reporter : Moh. Kadafi
Begini Jurus Menhub Budi Genjot Jumlah Wisatawan Asing Masuk Bali Menhub Soal Wisatawan Asing. ©Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, melakukan kunjungan ke Pulau Bali. Menhub menggelar rapat dengan PT Angkasa Pura (AP) I di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Dalam rapat tersebut, salah satu pembahasannya mengenai upaya peningkatan kunjungan wisatawan asing sesuai dengan keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Salah satu caranya dengan memprioritaskan penerbangan asing yang masuk ke Bali. "Saya minta memberikan suatu prioritas penerbangan keluar negeri khususnya turis dari berbagai negara," kata Menteri Budi pada awak media, Jumat (26/7).

Menteri Budi juga menjelaskan, pada 2020 mendatang, setidaknya ada 9 penerbangan asing ingin masuk ke Bali. Dengan 9 penerbangan ini akan meningkatkan jumlah kunjungan turis asing ke Bali. Dari 7 juta orang per tahun bisa menjadi 9 juta orang.

"Dari apa yang kami catat, ada 9 penerbangan yang ingin masuk ke Bali. Di antaranya dari Jepang, Taiwan, Banglades, Kamboja, dan banyak. Ada 9 flight. Kalau ada 9 flight dan rata-rata 200 sampai 300. Paling tidak ada 2.000 orang tambahan setiap hari. Kalau 2.000 orang akan ada penambahan 30 persen kenaikan," jelas Menteri Budi.

Menteri Budi juga menjelaskan, dengan adanya 9 penerbangan tersebut, AP I diminta untuk memberikan prioritas lalu lintas penerbangan asing ke Bali. Mulai dari jalur terbang dan mendarat dibuat secara kluster untuk penerbangan domestik hingga waktu terbang dan mendarat dibatasi.

"Diantaranya, kalau golden timenya mereka itu kan jam 2,3,6,7. Itu diberikan prioritas dari penerbangan turis-turis. Yang lain itu, di kluster dari beberapa kota. Tidak, semua kota kecil masuk ke sini kecuali kota itu cuma dijangkau oleh pesawat ATR," ujarnya.

Sistem kluster ini, lanjutnya, akan dibagi menjadi beberapa bagian yakni Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Penerbangan dengan tingkat keterisian minim dialihkan dari jam-jam sibuk.

"Tidak semua kota-kota itu bisa langsung ke Bali. Ada kluster. Jadi okupansinya maksimal. Jadi, setiap pesawat yang mendarat di sini, okupansinya bisa 70 -80 persen. Jangan cuma yang rombongan 50 persen mendarat di sini. Tidak produktif. Identifikasi apa yang paling baik," ujar dia.

Dia menambahkan terkait batas waktu parkir pesawat hanya 2 sampai 3 jam. "Yang lain kita juga menetapkan waktu ground time. Mendarat dan terbang itu tidak lebih dari 3 jam, atau 2 hingga 3 jam," ujar dia.

Bandara Ngurah Rai juga dinilai masih siap menampung alur masuk keluar wisatawan asing ini. "Dengan ditingkatkan beberapa hal apron dan taxi manajemen trafic diimprove itu bisa tambah 2. Kalau 2x12 kan ada 24 flight, kalau 9 sampai 10 masih mampu. Belum lagi flight-flight di dalam negeri," ujarnya. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini