BCA Ungkap Tips Terhindar dari Pembobolan Kartu Kredit Saat Belanja Online

Selasa, 9 Juli 2019 14:54 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
BCA Ungkap Tips Terhindar dari Pembobolan Kartu Kredit Saat Belanja Online Senior Vice President Head of Consumer Card Credit & Services Group BCA Linda Djojonegoro Soal Pembobolan Kartu Kredit. ©2019 Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Transaksi jual beli online saat ini kian digandrungi masyarakat. Namun rupanya hal tersebut juga menjadi lahan baru bagi para penjahat untuk melancarkan aksinya, salah satunya adalah pembobolan kartu kredit.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengungkapkan kasus kejahatan kartu kredit terbanyak ada pada sektor transaksi online. "Sekarang marak transaksi online, kita memang dimudahkan dalam belanja online tapi ternyata kasus kejahatan di area itu juga meningkat," kata Senior Vice President Head of Consumer Card Credit & Services Group BCA, Linda Djojonegoro, dalam sebuah acara diskusi di Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (9/7).

Dia mengungkapkan, modus pembobolan kartu kredit dalam transaksi online biasanya adalah dengan mencuri nomor kartu kemudian meminta OTP atau One Time Password kepada pemilik kartu kredit. "Kita harus hati-hati, jangan pernah memberikan nomor kartu kita, expire date dan nomor CVV di belakang kartu," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, kelemahan transaksi online saat ini adalah belum semua website atau merchant memberlakukan sistem OTP. Sehingga para penjahat tersebut kian mudah dalam melancarkan aksinya.

"Kalau OTP masuk tetapi kita tidak transaksi terus ada yang nelpon pura-pura membatalkan transaksi, bukannya membatalkan malah menjadikan transaksi. Jadi OTP tuh untuk menjadikan transaksi, bukan membatalkan," ujarnya.

Untuk mensiasati hal tersebut, dia mengungkapkan, BCA akan menambah fitur untuk mencegah pembobolan kartu kredit dari transaksi online. "Online misalnya kalau orang yang tidak pernah transaksi online, matikan fiturnya," ujarnya.

Kendati demikian, dia mengungkapkan aduan nasabah terkait pembobolan kartu kredit tidak banyak dibandingkan dengan total jumlah transaksi secara keseluruhan. Namun, meskipun cuma satu kasus, hal tersebut tetap merupakan kejahatan.

"Relatif kalau buat kita 10 atau 20 (kasus) sudah ngerasa banyak, kalau kita bandingkan sama transaksi relatif kecil, kita berusaha semaksimal mungkin tidak terjadi (pembobolan kartu kredit)," tutupnya. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini