Bank Dunia: Sekitar 9 juta balita di Indonesia mengalami stunting

Rabu, 19 September 2018 12:50 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Bank Dunia: Sekitar 9 juta balita di Indonesia mengalami stunting 37 persen anak-anak di Indonesia mengalami stunting. ©2018 Merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Kepala Perwakilan World Bank Indonesia Rodrigo A. Chaves mengatakan saat ini sekitar 37 persen atau hampir 9 juta anak-anak di Indonesia mengalami stunting. Oleh sebab itu, Bank Dunia memandang masalah stunting ini sangat serius dan harus segera ditangani.

"Sekitar 9 juta balita Indonesia saat ini mengalami stunting, yaitu pertumbuhan yang terhambat termasuk otak sang anak. Strategi nasional mempercepat pencegahan stunting adalah upaya serius pemerintah Indonesia untuk atasi masalah ini," kata dia dalam acara peluncuran buku Aiming High Indonesia's ambition to reduce stunting di Financial Club, Jakarta, Rabu (19/9).

Dia mengungkapkan, salah satu kendala dalam pengentasan stunting adalah gangguan kesehatan atau gejala awal yang tidak terlalu tampak. Stunting tidak disertai demam atau rasa sakit lainnya sehingga orangtua cenderung abai.

Stunting masih bisa terjadi bahkan pada anak-anak yang sudah memperoleh layanan kesehatan serta asupan makanan sehat. Sebab, stunting bisa terjadi karena air yang dipakai tidak bersih atau sanitasi yang buruk.

Karena itu, pengentasan stunting menjadi program lintas sektor yang melibatkan banyak kementerian dan lembaga lain. Saat ini, sebanyak 22 kementerian dan lembaga sudah berkoordinasi untuk mengentaskan masalah stunting di Indonesia.

"Saat ini proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dalam posisi yang baik. Tapi masalah stunting pada anak-anak saat ini menjadi awan gelap yang mengancam di masa depan," ujarnya.

Dalam kesempatan serupa, Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan saat ini pemerintah sudah menargetkan angka stunting bisa berkurang setidaknya menjadi 25 persen.

Dia mengungkapkan, sejauh ini pemerintah telah meluncurkan beberapa program seperti perbaikan gizi, perbaikan sanitasi dan MCK, serta program bagaimana prilaku hidup sehat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dilakukan terintegrasi oleh semua kementerian/lembaga.

"Kita mau turunkan 2019 itu 1/4, ya kalau bisa lebih rendah lebih bagus. Tetapi sekarang kita lihat dengan yang sudah kita lakukan selama ini, bisa nggak kita sampai turun jadi 1/4," ujarnya.

Menteri Bambang menegaskan, pengentasan stunting bukan hanya soal makanan sehat saja. Melainkan penunjang hidup sehat lainnya.

"Bukan hanya isu kesehatan, tidak cukup misalnya hanya dengan memberikan makanan tambahan atau perbaikan kesehatan gizi tetapi juga harus ada perbaikan infrastruktur seperti sanitasi atau air bersih. Artinya kita harus pastikan akses air bersih dan sanitasi itu di daerah yang maksimal ya kalau bisa 100 persen sehingga itu bisa mencegah stunting yang lebih besar."

Selain itu, untuk mencegah bertambahnya angka stunting harus dilakukan literasi kepada masyarakat. "Artinya lebih bagaimana hidup sehat ya dan hidup benar termasuk pola makan. Nah ini yang kita juga mau dorong supaya tidak hanya bicara mengenai kualitas makanannya tapi juga bicara mengenai jenis makanan yang dimakan. Ini yang mau dipastikan itu setiap keluarga yang punya masalah stunting itu mengkonsumsi makanan yang tepat," tandasnya. [azz]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini