Bangun 2.500 Km Tol, Pemerintah Ingin Kejar Ketertinggalan dari Malaysia dan Thailand

Kamis, 14 November 2019 15:43 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Bangun 2.500 Km Tol, Pemerintah Ingin Kejar Ketertinggalan dari Malaysia dan Thailand Menteri Basuki Hadimuljono. ©Humas Wijaya Karya

Merdeka.com - Periode kedua pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) menargetkan pertumbuhan pembangunan jalan tol. Bila sebelumnya, penyelesaian jalan tol selama 2014-2019 mencapai 1.852 kilometer, dalam kurun lima tahun ke depan menjadi 2.500 kilometer.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, mengatakan patut diakui bahwa kondisi infrastruktur tol di Indonesia masih kalah dibanding dengan negara satu kawasan.

"Seperti yang dibilang tadi, kita ini ketinggalan," kata dia, dalam sebuah talk show, di Jakarta, Kamis (14/11).

Karena itu, pria yang akrab disapa Pak Bas ini menegaskan pembangunan tol yang dijalankan untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

"Kita harus mengejar terus. Kita malah mengejar. Bukan malah untuk wah-wahan atau bagaimana," ujar Basuki.

Beberapa ruas tol yang bakal menjadi fokus ke depan, lanjut dia, seperti tol Trans Sumatera, lanjutan pembangunan tol Trans Jawa, juga tol di Kalimantan.

"2.500 kilometer Trans Sumatera tol itu harus, kemudian Cigatas, Cileunyi-Garut-Tasikmalaya. Terus bawen-solo-demak rembang-tuban," ujar dia.

"Kita ini ketinggalan kalau tadi kalah dengan Malaysia, Thailand, menang Vietnam. Kita kejar terus kita mau mengejar (tol) ini," tegasnya.

1 dari 2 halaman

Jokowi: 40 Tahun NKRI Hanya Bangun 780 Km Jalan Tol, Kita Dalam 4 Tahun Bangun 782 Km

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa dalam 4 tahun ini pemerintahan yang dipimpinnya telah mampu membangun jalan tol kurang lebih sepanjang 782 Km. Sementara sebelumnya selama 40 tahun Indonesia hanya bisa mampu membangun 780 Km. Hal ini karena pemerintah sudah menguasai lapangannya.

"Kunci-kunci masalah kenapa sih jalan tol itu tidak pernah selesai bertahun-tahun. Ini kita sudah mengerti dan cara menyelesaikannya seperti apa kita mengerti betul karena lapangannya terus saya ikuti," kata Presiden Jokowi dikutip dari lamat Setkab.

Presiden memberikan gambaran, sejak 1978 saat jalan tol Jagorawi dibangun, semua negara melihat itu selesai, manajemennya seperti apa, konstruksi seperti apa, jalan tol itu seperti apa. Semua pada melihat, Malaysia melihat, Vietnam melihat, Thailand melihat, Filipina melihat.

"Tapi dalam kurun waktu sampai 2014, berarti hampir 40 tahun kita hanya bisa membangun 780 kilometer. Dari sejak jalan tol pertama kita bangun di Jagorawi, 40 tahun kita hanya bisa membangun 780 kilometer."

Menurut Presiden, masalahnya di pembebasan tanah, di pengadaan tanah. Yang kedua juga banyaknya tanah-tanah yang berkaitan dengan instansi. Dia memberikan contoh misalnya tol Samarinda Balikpapan, itu ada dua penyebabnya di sana, lewat lahan konservasi, yang kedua lewat tanahnya kodam.

"Jadi kalau kita tidak mengerti yang menyelesaikan enggak ada. Yang menyelesaikan ya kita, kalau kita mengerti ya baru (bisa diselesaikan). Saya telepon Panglima, dua minggu rampung. Hal-hal yang berkaitan dengan konservasi itu juga ada kok payung hukumnya bisa diberikan, untuk kepentingan apa bisa. Saya telepon Menteri LHK, juga rampung," ungkap Presiden.

Kunci-kunci seperti itu, menurut Presiden, yang sekarang sudah dimengerti. Sehingga dalam empat tahun ini saja pemerintah sudah selesai membangun jalan tol sepanjang 782 kilometer, termasuk tol Jakarta-Surabaya-Pasuruan.

"Selama empat tahun itu kita telah membangun 782 kilometer. Dan hitungan kita, akhir tahun 2019 ini akan ada tambahan, sehingga total selama lima tahun nanti akan menjadi 1.854 kilometer," kata Presiden Jokowi.

Presiden meminta tidak usah bertepuk tangan dulu, karena China yang membangun dengan kurun waktu yang sama sekarang sudah punya jalan tol 280.000 kilometer. "Malaysia yang setelah kita sampai saat ini juga 1.824 kilometer."

Dengan telah dibangunnya sejumlah ruas baru jalan tol, Presiden ingin nantinya ada titik-titik kawasan wisata yang bisa berkembang lebih baik, ada kawasan-kawasan industri, ada kawasan-kawasan ekonomi khusus, menjadi titik-titik pertumbuhan ekonomi baru yang akhirnya membuka lapangan pekerjaan yang sebanyak-banyaknya. "Goal-nya seperti itu, infrastruktur goal-nya mesti ke sana," tegasnya.

2 dari 2 halaman

Faisal Basri: Dibanding Bangun Tol, Lebih Baik Benahi Transportasi Laut

Presiden terpilih untuk periode 2019-2024 nantinya diharapkan fokus membangun infrastruktur dan jaringan logistik melalui laut, bukan darat seperti jalan tol. Hal ini dinilai akan lebih efektif untuk menurunkan biaya logistik nasional.

Pengamat Ekonomi, Faisal Basri mengatakan, pembangunan jalan tol yang gencar dilakukan oleh pemerintah Jokowi-JK saat ini memang mampu menurunkan biaya logistik. Namun penurunannya tersebut dinilai tidak signifikan.

"Ya akan mengurangi biaya logistik karena jarak tempuh yang berkurang, secara neto lebih irit. Namun tidak signifikan mengurangi logistik nasional," ujar dia di Jakarta, Kamis (14/2).

Dengan gencarnya pembangunan tol, justru membuat logistik yang tadinya dilakukan lewat laut beralih ke darat. Padahal, 2/3 dari wilayah Indonesia merupakan perairan dan hanya 1/3-nya saja yang merupakan daratan.

"Akan signifikan kalau ada peralihan dari darat ke laut. Kalau ada tol, tidak ada shifting. Yang ada malah yang dari laut ke darat. Pembangunan Tol Sumatera itu dulunya dibarengi dengan dengan pembangunan jembatan Selat Sunda. Ini dibangun karena sudah ada Trans Jawa, jadi supaya nyambung. Tapi akhirnya proyek jembatannya dibatalkan, eh tolnya (Trans Sumatera) terus jalan. Makanya duren di sini harganya Rp100.000, di Lampung cuma Rp10.000, karena habis ongkos di angkutan," jelas dia.

Oleh sebab itu, ketimbang membangun tol, lebih baik pemerintahan berikutnya kembali menggalakkan program tol laut guna menekan biaya logistik di dalam negeri. Selain itu, dengan logistik yang diangkut melalui jalur laut juga dinilai akan membuat produk lokal bisa bersaing dengan produk impor.

"Kalau lewat tol, memang turun (biaya logistiknya) tapi tidak akan mampu melawan rendahnya harga produk luar negeri yang dikirim lewat laut. Kalau dari Bogor ke Jakarta lewat darat tidak ada pengaruhnya. Tapi kalau dari Surabaya ke Jakarta pakai truk lebih mahal ketimbang lewat general cargo laut," tandas dia.

[bim]

Baca juga:
Realisasi Investasi Tol Masih Jauh dari Target
Presiden Jokowi Target RI Miliki 5.000 Km Jalan Tol di 2024
Presiden Jokowi Ungkit Ketertinggalan Jauh Pembangunan Tol Indonesia dari China
Jasa Marga Kembangkan Teknologi Pengganti Tapping Kartu di Gerbang Tol
Jasa Marga Butuh Puluhan Tahun Tentukan Untung Rugi Pengelolaan Tol
Jasa Marga Fokus Kebut Pembangunan 3 Ruas Tol ini Hingga Akhir Tahun
Siap-Siap, Tarif 18 Ruas Tol Direncanakan Naik Tahun Ini Termasuk Jagorawi

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini