Aturan BI pukul pengembang properti

Senin, 30 September 2013 22:03 Reporter : Sri Wiyanti
Aturan BI pukul pengembang properti pembangunan apertemen Setiabudi Sky Garden. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Dampak dari pengetatan aturan rasio kredit terhadap nilai agunan atau Loan to Value (LTV) diyakini bakal sangat dirasakan pengembang properti. Khususnya pengembang properti yang tak serius.

Kepala Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) Agustinus Prasetyantoko menilai, aturan BI yang melarang pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk properti yang belum selesai pembangunannya (indent), kecuali untuk rumah pertama, akan membuat pengembang properti tertekan.

"Beberapa pengembang pasti suffer kena dampak," kata Pras di Jakarta, Senin (30/9).

Meski begitu, Pras yakin pertumbuhan kredit properti secara umum masih akan stabil. "Tapi properti secara umum masih tidak apa-apa, karena self financing. Tujuannya kayaknya mengurangi pengembang yang tergantung pada cicilan," tutur Pras.

Pengetatan aturan BI tersebut, dinilai Pras sebagai langkah bank sentral melindungi konsumen properti dari pengembang-pengembang yang tidak serius memenuhi komitmennya terhadap bank dan konsumen.

"(Pembatasan) Indent, itu selain melindungi perbankan, juga melindungi konsumen akhir, karena sampai sekarang ini konsumen akhir itu tidak ada yang mewakili," ujar Pras.

Mulai 30 September 2013, Bank Indonesia (BI) memberlakukan ketentuan baru tentang rasio pembiayaan terhadap agunan atau Loan to Value (LTV) kredit properti. Ketentuan tersebut berlaku untuk perbankan konvensional maupun syariah.

Kebijakan tersebut merupakan penyempurnaan dari aturan sebelumnya yakni Surat Edaran BI No. 14/10/DPNP yang dikeluarkan BI pada 15 Maret 2012, berlaku mulai Juli 2012 untuk tipe bangunan 70 meter persegi ke atas. [noe]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Properti
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini