Atasi Krisis Energi, Proyek RDMP dan GRR Pertamina Butuh Dukungan Pemerintah

Kamis, 7 November 2019 15:19 Reporter : Idris Rusadi Putra
Atasi Krisis Energi, Proyek RDMP dan GRR Pertamina Butuh Dukungan Pemerintah Kilang Balongan. skyscrapercity.com

Merdeka.com - Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan menilai, Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root refinery (GRR) Pertamina sangat strategis. Sebab kedua program tersebut berperan penting dalam menopang kemandirian energi dalam negeri.

"Dan untuk itu, dukungan penuh Pemerintah terus dibutuhkan," kata Mamit di Jakarta, Kamis (7/11).

Menurut dia, dukungan penuh pemangku kepentingan, terutama Pemerintah, selama ini banyak memberikan hasil yang baik salah satunya Pertamina mampu mewujudkan beberapa capaian positif RDMP dan GRR.

Mamit menyebutkan capaian kilang Balikpapan sudah pada proses konstruksi dan diharapkan selesai pada 2023 dengan peningkatan 100 ribu barel per hari.

Dengan peningkatan tersebut, ke depan, total produksi akan mencapai 360 ribu barel, karena saat ini kapasitas terpasang di Balikpapan mencapai 250 ribu barel.

"Sedangkan di Tuban Pertamina sudah bekerja sama dengan Rosneft, yaitu dengan adanya penandatanganan basic engineering design (BED). Ini merupakan langkah sangat maju," katanya.

Melihat kondisi tersebut, Mamit optimistis, proyek RDMP dan GRR bisa mendukung kemandirian energi, produksi dalam negeri meningkat dan impor berkurang.

"Peningkatan ini penting, karena pada 2025, jika kita tidak segera mengubah pola konsumsi, maka akan mengalami krisis energi, karena konsumsi lebih besar dibandingkan lifting migas kita," katanya.

1 dari 2 halaman

Persoalan Krisis Energi Teratasi

Melalui RDMP dan GRR itulah lanjutnya, ke depan persoalan krisis energi bisa diatasi dan energi dalam negeri bisa terjaga, selain itu, produksi dalam negeri juga meningkat sekaligus mengurangi impor.

Selain itu melalui program tersebut Pertamina juga bisa meningkatkan kualitas produknya untuk mendukung energi bersih

"Terakhir saya ke Cilacap, bagus sekali. Kita bisa menambah produksi Pertamax dengan hasil standar Euro-IV dan juga bisa memproduksi elpiji. Selain itu, Plaju juga ditargetkan untuk memproduksi biofuel," ujarnya.

Terkait peningkatan produksi, Mamit optimistis bahwa target Pertamina yang akan meningkatkan produksi dua kali lipat akan terpenuhi.

"Dengan lokasi program di Dumai, Plaju, Cilacap, Balongan, Balikpapan, Tuban, dan Bontang, saya yakin ketika sudah onstream secara maksimal, 2 juta barel itu bisa tercapai," katanya.

2 dari 2 halaman

Laba Pertamina USD 753 Juta di Kuartal III-2019

PT Pertamina (Persero) mencatatkan laba USD 753 juta di kuartal III-2019. Meski demikian, Pertamina berharap pemerintah segera membayar kompensasi penyaluran Bahan Bakar Minyak(BBM) dan elpiji bersubsidi untuk mendongkrak laba tersebut.

Direktur Keuangan Pertamina, Pahala Mansyuri mengatakan, pencapaian laba tersebut ebih tinggi jika dibandingkan laba bersih pada semester pertama 2019 sebesar USD 660 juta.

"Kuartal III laba kita kurang lebih USD 753 juta," kata Pahala di Jakarta, Kamis (7/11).

Menurut Pahala, capaian laba tersebut bisa lebih tinggi, jika pemerintah membayar kompensasi penyaluran BBM dan elpiji bersubsidi atas selisih harga jual yang di bawah harga beli sebesar USD 1 miliar. Dengan begitu potensi pendapatan Pertamina bisa bertambah menjadi USD 1,7 miliar.

"Jadi kurang lebih ya kita dikisaran USD 1,7 miliar kalau termasuk potensi pendapatan dari kompensasi," tuturnya.

Namun pembayaran kompensasi penyaluran BBM dan elpiji bersubsidi atas selisih harga jual yang di bawah harga beli harus menunggu audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Keputusan Menteri Keuangan.

"Tapi kan biasanya memang kompensasi harus menunggu adanya audit BPK dan keputusan Menteri Keuangan. Kalau tidak termasuk itu kurang lebih US$ 753 juta," tandasnya. [idr]

Baca juga:
Pertamina Ingin Kuasai Saham TPPI
Deretan Keuntungan Pembangunan Kilang, Termasuk Buka 172.000 Lapangan Kerja
Pertamina Kebut Pembangunan Kilang, Begini Caranya
Pertamina Belum Selesaikan Negosiasi Harga Lahan untuk Kilang Cilacap
Kilang Pertamina Tak Lagi Produksi Euro 2 Mulai 2026

Topik berita Terkait:
  1. Kilang
  2. Pertamina
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini