Atasi defisit transaksi berjalan, Wapres JK usul setop impor Ferrari Cs

Kamis, 2 Agustus 2018 15:03 Reporter : Anggun P. Situmorang
Atasi defisit transaksi berjalan, Wapres JK usul setop impor Ferrari Cs Jokowi pimpin ratas persiapan asian games 2018. ©2018 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK), mengatakan cara mudah menekan defisit transaksi berjalan dengan menaikkan ekspor dan mengurangi impor. Salah satu caranya dengan mengurangi impor barang-barang mewah.

"Defisit neraca berjalan teori mudahnya gampang, menaikkan ekspor mengurangi impor, tapi ini perlu upaya," ujar Wapres JK di Hotel Arya Duta, Jakarta, Kamis (2/8).

"Saya mengusulkan sudah kita hentikan impor mobil yang di atas 3000 cc. Tak usah impor ferrari, tak usah impor lamborghini contohnya macam-macam. Itu supaya mengurangi faktor-faktor impor tadi," sambungnya.

Wapres JK melanjutkan, selain itu pemerintah juga mengurangi pembangunan proyek infrastruktur yang memiliki ketergantungan besar terhadap impor.

"Kita sekarang berusaha misalnya mengurangi luxuries, proyek infrastruktur itu komponennya jangan diimpor semua. Yang banyak itu listrik itu banyak komponen impornya hampir seluruhnya. Ini akan diklasifikasikan untuk mengurangi impornya," jelasnya.

Pemerintah sendiri, menurut Wapres JK, telah mengambil keputusan untuk meningkatkan ekspor kelapa sawit. Akan tetapi, dia melanjutkan realisasi ekspor kelapa sawit ini memang tidak mudah. Sebab, menghadapi pembatasan dari Eropa.

"Dalam keadaan begini kita misalnya ingin meningkatkan ekspor sawit tapi di Eropa ada pembatasan maka terpaksa kita ancam juga Eropa. Kita berhenti beli airbus begitu kita ancam langsung seluruh duta besarnya datang untuk mengklarifikasi. Akhirnya sawit itu ditunda lah pelaksanaan (pembatasan) nya," jelasnya.

Pemerintah juga akan menggandeng pengusaha agar membawa seluruh devisa ekspornya ke dalam negeri. Di mana data Kementerian Koordinator Perekonomian menunjukkan masih 80 persen devisa ekspor yang di bawa kembali ke Indonesia.

"Menurut Menko Perekonomian, dari ekspor kita hanya 80 persen yang devisanya masuk ke Indonesia dan tidak lama keluar lagi. Jadi mungkin diperlukan suatu sikap yang jelas, bahwa semua ekspor itu harus masuk devisanya," tandasnya. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini