Aset Bakrie di wilayah kekuasaannya bisa habis dijual

Rabu, 12 Februari 2014 07:56 Reporter : Novita Intan Sari
Aset Bakrie di wilayah kekuasaannya bisa habis dijual epicentrum walk. ©rifiyu.com

Merdeka.com - Bukan rahasia lagi jika perusahaan properti milik keluarga Aburizal Bakrie, PT Bakrie Development  Tbk (ELTY), mempunyai kinerja buruk lantaran Bakrieland menanggung utang triliunan rupiah. Gali lobang tutup lobang, secara perlahan perusahaan mulai menjual satu persatu proyek megahnya.

Penjualan aset di kawasan utama bisnis kerajaan Bakrieland dimulai Juli 2011. PT Bakrie Swasakti Utama (BSU), anak usaha Bakrieland, menjual tanah seluas 3 hektar (ha) di kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta. Penjualan dilakukan ke anak usaha Grup Tiara Marga Trakindo (TMT) yakni PT Triyasa Propertindo (Triyasa).

Proses penjualan ini dilakukan 27 Juli 2011 dengan total luas 30.000 meter persegi (m2) dengan total investasi sebesar Rp 1,8 triliun. Selanjutnya, Bakrieland kembali menjual lahannya kepada pengembang properti, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) pada semester satu tahun lalu, dengan mengakuisisi lahan seluas 5 hektar (ha) di kawasan Epicentrum. Nilai investasi ditaksir mencapai Rp 8 juta per meter persegi atau mencapai Rp 400 miliar.

Berbagai cara dilakukan perusahaan untuk memperpanjang napas bisnisnya. Pengamat Ekonomi, Probo Sujono berpendapat proyek epicentrum milik Bakrie memiliki daya tarik tersendiri oleh para pengembang properti. Belum lagi kawasan tersebut masuk dalam segitiga emas.

"Indonesia sendiri kan memiliki sektor properti yang menggiurkan, dengan BSD mengakuisisi lahannya Bakrie tentunya sangat menguntungkan BSD lantaran BSD kan pengembang properti yang bukan masuk kawasan segitiga emas," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Selasa (11/2).

Menurut Probo, pasca berita terbaru obral aset lahan seluas 14.850 meter persegi di kawasan Epicentrum dengan nilai investasi Rp 297 miliar, mungkin Bakrie akan menjual semua proyek Epicentrumnya kepada para pengembang properti lainnya.

"Kemungkinan memang ada, tapi tidak seekstrim itu. Itu semua tergantung harga sewa di kawasan tersebut," jelas dia.

Terlepas dari aksi korporasi yang dilakukan Bakrieland, kesulitan likuiditas perusahaan menjadi kendala paling utama untuk dapat mengembangkan bisnisnya. Belum lagi utang yang terus bertambah.

"Grup Bakrie memang begitu, mereka tidak solid cash flownya dan mereka tidak bisa meminta induknya untuk melunasi utang anak usahanya (Bakrieland)," ungkapnya.

Untuk diketahui, pada semester satu tahun lalu perusahaan mencatat kenaikan utang. Per 30 Juni 2013, utang perseroan menjadi Rp 7,31 triliun dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 6,07 triliun. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini