Arcandra Sebut 14 Blok Migas Eksplorasi Pakai Skema Gross Split, Bantah Tak Menarik

Kamis, 18 April 2019 13:39 Reporter : Dwi Aditya Putra
Arcandra Sebut 14 Blok Migas Eksplorasi Pakai Skema Gross Split, Bantah Tak Menarik Wamen ESDM Arcandra Tahar soal skema gross split. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, menegaskan bahwa skema Gross Split cukup menarik dalam kontrak kerja wilayah kerja (WK) migas eksplorasi. Menurut Arcandra, anggapan bahwa skema gross split tidak cocok untuk blok migas eksplorasi adalah sebuah miskonsepsi. Sebab, sejauh ini sudah ada 14 blok migas eksplorasi yang laku menggunakan skema gross split.

"Sudah ada 14 blok yang laku karena menggunakan skema gross split, dan ini untuk blok eksplorasi," tutur Arcandra dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Kamis (18/4).

Sejak diterapkan pada 2017 lalu, skema bagi hasil gross split telah membawa dampak positif terhadap perkembangan investasi migas di Indonesia. Kementerian ESDM pun optimistis tren positif hulu migas ini terus berlanjut dengan lakunya blok-blok migas yang ditawarkan, baik itu blok baru, maupun blok terminasi.

Arcandra juga meluruskan adanya miskonsepsi lain, mengenai anggapan jika kontraktor minyak besar tidak ada yang berminat terhadap gross split. Lantaran gross split hanya diminati dan digunakan oleh kontraktor migas kecil.

"Ini ada yang mengatakan seperti itu, kalau saya bilang saat ini ENI yang mengelola Blok East Sepinggan telah beralih ke gross split, apa ada yang mengatakan kalau ENI itu perusahaan kecil?" kata Arcandra.

Arcandra mengungkapkan alasan kontraktor mengalihkan kontraknya menjadi gross split adalah mempertimbangkan keuntungan menggunakan skema gross split yakni, efisien, proses yang tidak berbelit-belit, sederhana dan lebih memiliki kepastian, dimana parameter pembagian insentif jelas dan terukur. "Karena alasan-alasan itu mereka mengalihkan kontraknya menjadi gross split," pungkas Arcandra.

Perlu diketahui, lembaga konsultan energi global Wood Mackenzie dalam laporannya yang dirilis Januari 2019 lalu, turut memberikan apresiasi atas perubahan sistem kontrak bagi hasil migas dari cost recovery menjadi gross split. Menurut laporan Mackenzie, kebijakan fiskal yang diterapkan oleh skema gross split dinilai positif terhadap investasi migas di Indonesia, sistem kontrak gross split pun mendapat sambutan yang positif dari para investor migas. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini