AP II Soal Bandara Dikelola Asing: Sudah Biasa

Rabu, 9 Oktober 2019 15:06 Reporter : Merdeka
AP II Soal Bandara Dikelola Asing: Sudah Biasa Dirut PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin. ©Humas Soekarno-Hatta

Merdeka.com - Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin menanggapi kabar perusahaan asing akan mengelola proyek pengembangan Bandara Komodo di Labuan Bajo. Menurutnya, pelibatan asing dalam pengelolaan bandara sudah biasa terjadi.

"Biasa saja, memang harus sudah begitu, saya rasa di situ pola kompetisi terjadi bagaimana membawa kebaikan di masing-masing layanan di bandara sehingga bisa memuaskan pelanggan," ujarnya di Tangerang, Rabu (9/10).

Menurut Awaluddin, saat ini pengembangan bisnis harus fokus ke service based competition, alias berlomba-lomba memberi layanan yang terbaik demi pelanggan. Percuma jika infrastruktur hebat namun pelayanan lemah, tentu tidak akan diterima pelanggan.

Dia mencontohkan, kerjasama dengan Astra Digital dalam menyediakan layanan digital untuk mobilisasi pelanggan dari dan ke bandara merupakan contoh service based competition.

"Contohnya, sekarang kami meningkatkan customer experience dengan bekerja sama dengan Astra Digital. Jadi orang tidak perlu repot-repot cari tempat parkir untuk mobil tinggal pakai CariParkir, tidak perlu repot cari bus tinggal pakai Sejalan dan Movic," ungkapnya.

1 dari 2 halaman

Wapres JK Mendukung

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku belum mengetahui bahwa Bandara Komodo di Labuan Bajo akan dikelola asing. Kendati demikian, Wapres JK menyebut memang ada sejumlah bandara di Tanah Air yang ditawarkan kepada asing untuk dikelola. Alasannya, agar bandara tersebut mendapatkan keuntungan.

"Itu penting, kenapa? Karena dia juga ingin bandara itu ramai, baru untung," ucapnya.

Wapres JK melanjutkan, bila Bandara Komodo dikelola asing, maka kawasan wisata di Labuan Bajo juga bisa ikut dipromosikan ke dunia internasional. Demikian juga jika kawasan wisata di Labuan Bajo dikelola asing. "Untuk ramai dia harus mempromosikan daerah itu untuk wisata. Baru itu ramai, baru itu untung, jadi bagus kalau itu," pungkasnya.

2 dari 2 halaman

Berinovasi

PT Angkasa Pura II membeberkan sejumlah strategi pengelolaan bandara dalam lima tahun ke depan. Operator pengelola bandara milik negara ini berharap tidak ada kesalahpahaman di masyarakat. Seperti isu penjualan aset atau bandara salah satunya.

Direktur Utama Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, mengatakan hingga kini pihaknya telah mengelola 16 bandara. Jumlah tersebut masih akan bertambah seiring dengan adanya 3 bandara baru di tahun ini.

Awaluddin juga mengatakan, pihaknya berniat mengundang investor untuk bekerjasama mengelola bandara atau strategic partnership guna mendorong daya saing bandara serta kepemilikan aset. Hal tersebut dipercaya mendatangkan banyak keuntungan bagi BUMN ini.

Berikut wawancara jurnalis Merdeka.com, Anggun Putriani Situmorang dan Harwanto Bimo Pratomo, dengan Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin:

Berapa bandara yang saat ini dikelola oleh Angkasa Pura II?

16 Bandara, mudah-mudahan tahun ini akan bertambah 3 lagi. Satu sedang dalam progres konstruksi.

Bandara apa yang sedang dalam proses konstruksi?

Bandara Wirasaba atau Jenderal Besar Sudirman di Purbalingga, Jawa Tengah.

Bagaimana strategi pengelolaan bandara Angkasa Pura II dalam lima tahun ke depan?

Pertama, kita bicara strategi kepemilikannya dulu. Sampai 2017 itu, strategi kepemilikan bandara kita sekaligus pengoperasiannya itu dengan dua cara. Kita membangun sendiri atau self investment. Kedua, kita dapat Penyertaan Modal Negara (PMN) dari pemerintah yang merupakan tambahan modal disetor pemerintah kepada BUMN. Dan itu kan 13 bandara yang kita miliki itu polanya bangun sendiri atau self investment yang kedua adalah PMN. Bagian dari kontribusi negara.

Nah mulai 2018, sudah mulai bervariasi karena kita sudah memiliki bandara di luar yang dua tadi self investment dan PMN. Kita juga memulai kerjasama pemanfaatan aset barang milik negara. Kemudian kita juga sudah mulai dengan pemerintah daerah. Kemudian kita juga melakukan kepemilikan bandara dengan perusahaan milik daerah. Macam-macam ya. Termasuk kerjasama dengan swasta di mana Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) nya atau lisensi operasi bandaranya tetap diberikan pemerintah kepada kita Angkasa Pura II.

Bagaimana AP II mengantisipasi isu seperti yang pernah muncul mengenai Bandara Soekarno-Hatta yang akan dikerjasamakan dengan swasta, disebut menjual aset negara?

Kalau Soekarno Hatta tidak, yang kita strategic partnership kan dengan Kualanamu. Soekarno Hatta tidak ada, jadi tidak ada yang disebut dengan menjual aset negara. Apanya yang dijual? Orang asetnya tetap milik negara. Kerjasama pengoperasiannya iya.

Berapa tahun kerjasama pengoperasiannya?

Tergantung dari penyertaan investasi mereka. Jadi kalau bicara atas nama lisensi bandar udara 25 tahun sampai 30 tahun, dan mereka ikut berpartisipasi secara investasi. Asetnya tetap milik kita termasuk aset baru yang muncul menjadi aset yang akan kita miliki dengan pola BUT (Bentuk Usaha Tetap) untuk dalam kurun waktu tertentu, jadi berpindah asetnya menjadi milik kita.

Kapan rencana Kualanamu dieksekusi?

Kualanamu itu kan strategic partnership jadi kemitraan strategis. Kita mengundang atau menginvite strategic partner untuk berpartisipasi dalam pengelolaan bandara internasional Kualanamu. Badan Usaha Bandar Udara nya atau BUBU nya tetap di Angkasa Pura II. Jadi kita tidak mengalihkan lisensi BUBU nya. Yang kita undang strategic partner untuk berinvestasi dan mengelola operasional bandara bersama-sama.

Nah, kerjasama ini ada tiga tujuan. Tiga tujuan itu adalah, satu, kerjasama strategis itu adalah dalam rangka untuk meningkatkan traffic internasional. Kenapa? Karena bandar udara Kualanamu ini secara posisi dan lokasinya sangat strategis karena di Utara Indonesia kan. Kemudian dia sangat dekat dengan tiga kawasan yang merupakan kawasan regional yang cukup tinggi dalam pergerakan transportasi udaranya. Mana? Singapura, Kuala Lumpur dan Thailand. Jadi dia akan menjadi alternatif 'pesaing' bagi tiga kawasan ini.

Tujuan yang kedua dalam konteks strategic partnership itu adalah untuk sharing keahlian atau kapabilitas dalam pengelolaan operasi bandara. Karena yang kita undang ini kan strategic partner yang merupakan mitra global dan mereka adalah operator bandara juga yang tadi dalam konteks BUBUnya tidak pindah, BUBUnya tetap kita. Jadi mereka akan kita undang dalam konteks pengembangan usaha bandara, pengembangan traffic dan lain sebagainya.

Ketiga, strategic partnership. Jadi mereka sebagai partner yang membawa capital atau membawa modal. Jadi ketiga hal ini dalam konteks strategic partnership. Jadi, tidak ada itu pelepasan aset itu tidak ada. Yang ada aset tetap milik kita, malah bertambah, kedua lisensi operasional bandaranya tetap di Angkasa Pura II.

Nah itu, inovasi kita untuk lebih akseleratif termasuk juga masuk ke strategic partnership. Kita juga masuk ke pengambilalihan saham misalnya. Ada yang menarik dan sebagainya. Macam-macamlah yang menurut saya common practice yang umum sudah kita lakukan sekarang. Dulu mungkin belum, tapi sekarang kita tidak bisa hanya bertumpu pada pertumbuhan organik bisnis saja. Jadi harus masuk ke inorganik juga. Kurang lebih seperti itu.

Calon investornya, dari dalam negeri atau luar negeri?

Yang mengirim ke kita ada 28 yang mengirim letter of intent. Kemudian, waktu kita melakukan pra REP (Request of Proposal) yang merespon dari 28 itu, 16 operator bandara. Jadi saya rasa offering dari strategic partnership dari bandara internasional Kualanamu cukup menarik di mata calon investor.

Investor yang menawarkan nilai investasi terbesar siapa?

Oh belum, kan nanti masuk proses bidding dulu untuk proses tendernya. Kan proses tendernya belum kan, mungkin setelah selesai dokumen REP baru ke proses tender. Kita berharap Juni atau Juli lah, tahun ini. Sehingga nanti sebelum akhir tahun sudah ada calon partner dan sudah bisa closing transaksi. Sehingga awal tahun depan kita sudah mulai bermitra atau berpartner strategis dengan mereka.

Kualanamu dulu berarti ya?

Itu yang kita invite. Ada lagi yang kita masuk ke tempat lain. Ke kawasan regional. Kita juga masuk. Seperti kemarin di Calk, Filipina, kita melihat juga di lokasi lain di kawasan regional itu.

Reporter: Athika Rahma

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
Wapres JK Setuju Asing Ikut Kelola Bandara di Indonesia, Inilah Alasannya
Sempat Tutup 2 Hari, Bandara Samarinda Kembali Normal
Pekan Ini, Pemerintah Akan Umumkan Pemenang Lelang Operator Bandara Komodo
Ditawarkan ke Swasta, Proyek Bandara Singkawang Diminati China Hingga Prancis
BKPM Tawarkan Proyek Bandara Singkawang ke Swasta
Penutupan Bandara Samarinda Diperpanjang Sampai Besok

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini