Ancaman Krisis Pangan dan Antisipasi Pemerintahan Jokowi

Kamis, 19 November 2020 07:00 Reporter : Idris Rusadi Putra
Ancaman Krisis Pangan dan Antisipasi Pemerintahan Jokowi Ilustrasi Sawah. ©2018 Merdeka.com/Abdul Azis Rasjid

Merdeka.com - Organisasi pangan dunia atau FAO telah mengeluarkan kajian yang menyatakan bahwa negara-negara dunia akan menghadapi musim panas berkepanjangan. Beberapa negara-negara ASEAN juga akan mengalami kekeringan seperti India, Thailand dan Vietnam. Kondisi ini mengancam akan terjadinya krisis pangan dalam beberapa tahun ke depan.

Data US Department of Agriculture (USDA) International Grains Council (IGC) memproyeksikan, produksi padi global pada 2019/2020 menurun -0,4 persen sampai -0,5 persen dibandingkan produksi tahun 2018/2019. Ancaman krisis pangan di masa pandemi ini semakin nyata. India dan Vietnam sebagai negara pengekspor bahan pangan menghentikan ekspornya.

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto mengakui adanya potensi terjadinya krisis pangan di masa pandemi Covid-19. Indeks harga pangan dunia periode Januari-Mei 2020 cenderung mengalami penurunan.

"Penurunan relatif tajam terjadi pada harga gula, minyak nabati dan hasil peternakan," kata Airlangga dalam Webinar IPMI bertema 'Triple Helix Innovation for Sustainable Food System in Indonesia Amid Covid-19', Jakarta, Selasa (16/6).

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Bambang Soesatyo juga mengingatkan pemerintah mengenai kemungkinan terjadinya krisis pangan di tengah pandemi Virus Corona. "Perlu mendapat perhatian kita semua adalah peringatan dari Food and Agricultural Organization (FAO), mengenai ancaman krisis pangan akibat pandemi Covid-19," ujarnya.

Pertarungan dalam memenuhi dan mengawal ketersediaan pangan akan menjadi penentu gerak bandul geopolitik global. Kondisi ini memaksa setiap negara merancang politik pangan, pertama-tama, untuk kepentingan domestiknya.

"Dalam kaitan ini, Pimpinan MPR perlu mengingatkan bahwa produksi dalam negeri akan menjadi tumpuan utama bagi kita saat ini. Fasilitas produksi, seperti mesin dan peralatan pertanian, subsidi pupuk dan benih, serta fasilitas pendukung produksi lainnya, perlu menjadi prioritas bagi peningkatan produksi dalam negeri," kata Bambang.

Dia menambahkan, mengingat 93 persen mayoritas petani Indonesia adalah petani kecil, maka fasilitas dan bantuan sangat dibutuhkan agar mereka terbantu untuk meningkatkan kinerja produksinya. "Dalam situasi pandemi saat ini, selain fasilitas atau bantuan, diperlukan juga protokol produksi yang dapat menjamin kualitas dan keamanan pangan yang terbebas dari Covid-19," katanya.

Lalu, apa langkah pemerintah Jokowi dalam menghadapi ancaman krisis pangan? Berikut penjelasannya:

Baca Selanjutnya: Siapkan Anggaran Rp99 Triliun...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini