Alumni ITB paparkan kelebihan pembangunan pipa di Blok Masela

Selasa, 6 Oktober 2015 17:12 Reporter : Moch Wahyudi
Alumni ITB paparkan kelebihan pembangunan pipa di Blok Masela Ilustrasi Migas. shutterstock.com

Merdeka.com - Alumni Institut Teknologi Bandung yang tergabung dalam Forum angkatan tujuh tiga (Fortuga-ITB) memaparkan kelebihan dari pembangunan pipa laut untuk pengembangan Lapangan Gas Abadi-Masela. Ini untuk menandingi keputusan pemerintah yang condong memilih proyek terminal gas apung di Blok gas terletak di Laut Arafuru, Maluku, tersebut.

"Kami sudah melakukan berbagai penelitian, kajian dan perhitungan ulang serta membandingkan beberapa proyek pengembangan migas di darat dan laut dalam seperti di Gulf of Mexico, North Sea, Afrika-Eropa (Medgaz Pipeline), Rusia Turki (pipa gas Laut Hitam), Australia dan Indonesia," demikian isi siaran pers Fortuga ITB, Selasa (6/10).

Forum itu diisi tokoh terkenal semacam Alhilal Hamdi (eks Menakertrans); Suwito Anggoro (eks CEO Chevron Indonesia); Yoga Suprapto (eks Dirut LNG Bontang); Fathor Rahman (eks Tenaga Ahli Kepala BP Migas); dan Ali Herman Ibrahim (eks Direktur PLN).

Adapun beberapa kelebihan tersebut adalah:

Pertama, terdapat kajian konsultan bahwa pembangunan jalur pipa laut ke darat melalui palung Selaru-Tanimbar secara teknis dan konstruksi adalah aman dan layak.

Kedua, biaya Investasi (Capex) proyek LNG Abadi Masela di darat sebesar USD 16 miliar, sedangkan bila dibangun terapung akan mencapai USD 22 miliar.

Ketiga, total kandungan dalam negeri (TKDN) pada LNG Terapung maksimal 10 persen atau USD 2,2 miliar. Sementara bila dipilih LNG di Darat, dari pengalaman Indonesia membangun, mencapai 35 persen atau USD 5,6 miliar. Manfaat TKDN ini akan langsung dirasakan oleh warga Maluku maupun pihak Indonesia lainnya.

Keempat, pembangunan LNG Terapung Abadi-Masela hanya menghasilkan penjualan USD 4 miliar per tahun. Jika dibangun di darat, selain USD 4 miliar tersebut, juga akan diperoleh tambahan penjualan USD 5 miliar per tahun dari proses gas menjadi industri petrokimia.

Kelima, biaya operasi (Opex) per tahun LNG Darat sebesar USD 2 miliar, jauh lebih rendah dibanding LNG Terapung yang USD 7 miliar.

Keenam, pilihan LNG darat akan menampung pengembangan lapangan migas baru yang bertebaran mulai dari Aru, Tanimbar hingga Celah Timor. Hingga, wilayah Maluku bisa menjadi sentra baru industri Gas dan Petrokimia di Timur.

Ketujuh, pembangunan LNG darat membuka peluang bangkitnya ekonomi, sosial, kewilayahan dan ketahanan nasional di Indonesia Timur (Maluku-NTT). [yud]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini