Alasan Sri Mulyani Patok Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen di 2020

Senin, 20 Mei 2019 14:48 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Alasan Sri Mulyani Patok Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen di 2020 Sri Mulyani. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerintah mengusulkan target pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,3-5,6 persen dalam asumsi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2020. Hal itu disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat paripurna bersama DPR.

Menkeu Sri Mulyani mengungkapkan, usulan tersebut atas dasar pertimbangan beberapa hal, termasuk potensi risiko yang akan dihadapi di tahun depan.

"Dengan memperhatikan kondisi ekonomi global yang diperkirakan terus berlanjut," kata dia di Ruang Rapat Paripurna Gedung DPR, Jakarta, Senin (20/5).

Dia menyebutkan, dinamika ekonomi global masih penuh ketidakpastian. Saat ini saja, ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali menajam. Ketegangan dagang tersebut menimbulkan kenaikan risiko pada pertumbuhan ekonomi global serta negara lain serta pelemahan perdagangan internasional.

Kendati demikian, dia menegaskan di tengah gejolak ekonomi global Indonesia masih mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Terbukti dengan angka 5,07 persen yang diraih pada kuartal I 2019.

"Meskipun momentum pertumbuhan masih dapat dipertahankan di atas 5 persen pada kuartal I 2019, kita harus meningkatkan kewaspadaan terhadap perlambatan faktor eksternal yang tercermin dari pelemahan pertumbuhan ekspor nasional," ujarnya.

Di sisi lain, langkah pemerintah untuk mengurangi defisit transaksi berjalan juga dapat mengakibatkan pelemahan ekonomi nasional.

"Ke depan, untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, fokus pemerintah tetap harus menjaga pemulihan investasi dan ekspor. Hal itu dilakukan dengan tetap menjaga pertumbuhan konsumsi melalui perbaikan daya beli, stabilitas harga dan penguatan kepercayaan konsumen," ujarnya.

Asumsi makro selanjutnya, target inflasi dijaga antara 2,0 hingga 4,0 persen. Tingkat bunga SPN 3 bulan di kisaran 5,0-5,6 persen.

Kemudian nilai tukar Rupiah berada di kisaran Rp14.000-Rp15.000 per USD. Harga minyak mentah Indonesia diperkirakan USD 60-70 per barel dengan lifting minyak bumi 695-840 ribu barel per hari, dan lifting gas bumi 1.191-1.300 ribu barel setara minyak per hari. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini