Alasan Investasi Lebih Penting Ketimbang Menabung

Sabtu, 24 Oktober 2020 19:00 Reporter : Merdeka
Alasan Investasi Lebih Penting Ketimbang Menabung Ilustrasi menabung. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/studioVin

Merdeka.com - Direktur Presiden Direktur Interim Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Afifa memaparkan perbedaan antara investasi dan menabung. Menurutnya, investasi dapat menambah daya beli masyarakat dan dapat membantu masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan inflasi yang terjadi setiap tahunnya serta memberikan tren positif dalam peningkatan daya beli.

"Misalnya, harga sapi itu sekarang sekitar Rp75 ribu. Dalam waktu setahun ke depan mungkin harganya mungkin bakalan sama. Tetapi, kalau 10 tahun berikutnya bisa jadi sudah nambah dua kali lipatnya karena inflasi. Kalau duit yang kita tabung segitu-segitu saja, bisa jadi saya beli kita jadi menurun dan tidak bisa beli daging sapi lagi," paparnya dalam webinar Basic Investment yang diadakan oleh MAMI, Sabtu (24/10).

Dia menjelaskan, menabung sendiri di rumah dengan celengan atau di bawah bantal tidak akan menambah nilai uangnya. Kemudian, jika menabung di bank, nasabah memang akan mendapat bunga setidaknya 5 persen. Namun, hal ini juga dapat menyebabkan masyarakat memiliki simpanan uang yang pas-pasan.

Sementara itu, kebiasaan menabung lebih condong berguna untuk menutupi kebutuhan jangka pendek, seperti pembayaran dana pendidikan, uang bulanan listrik, dan kebutuhan yang sifatnya harian.

Sehingga, jika uangnya berencana disimpan untuk jangka panjang, para nasabah disarankan untuk melakukan investasi. Baginya, jika uangnya hanya sekadar ditabung, nasabah dapat kehilangan kesempatan mendapat keuntungan atau opportunity gain.

"Kalau investasi, dalam 20 tahun ke depan, kita bisa ambil asumsi bahwa nanti bakal ada return 15 persen. Tabungan kita yang Rp100 ribu, dapat berkembang biak, mungkin mencapai Rp1,6 juta di 10 tahun kemudian. Alhasil, kita tidak pas-pasan, malah bisa beli daging sapi dan printilan-printilan lainnya," imbuhnya.

Di saat pandemi seperti sekarang, Afifa mengakui bahwa reksadana saham lebih terkoreksi karena absennya investor asing. Hal ini disebabkan mereka lebih melirik prospek ke negara lain dengan penanganan covid-19 yang lebih memadai.

"Ketika vaksin sudah ditemukan dan masyarakat sudah lebih awas terhadap protokol kesehatan, maka prospek ekonomi di depan juga akan lebih baik," jelasnya.

Meskipun masih menunggu kestabilan ekonomi, obligasi maupun saham masih memiliki tren positif dan berpotensi baik untuk dijadikan simpanan jangka panjang.

Baca Selanjutnya: Perbedaan Saham dan Obligasi...

Halaman

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Investasi
  3. Menabung
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini