Akibat Galaxy Note 7, Samsung berpotensi kehilangan Rp 188 T

Selasa, 13 September 2016 14:34 Reporter : Saugy Riyandi
Samsung Galaxy Note 7. ©2016 Samsung/YouTube

Merdeka.com - Saham Samsung Electronics anjlok hingga 7 persen di perdagangan kemarin. Anjloknya saham perusahaan asal Korea ini menjadi titik terendah dalam dua bulan terakhir. Hal ini dipicu adanya masalah pada baterai pada perangkat baru Samsung Galaxy Note 7. Komponen tersebut bisa terbakar saat dilakukan pengisian ulang.

Dilansi CNBC, Selasa (13/9), kejadian ini membuat Samsung berpotensi kehilangan USD 14,3 miliar atau Rp 188 triliun dari pasar saham global. Para investor merasa khawatir atas kerusakan yang menyebabkan seluruh unit Galaxy Note 7 ditarik dari pasaran.

Analis HI Investment & Securities Myung Sub Song, mengatakan masalah penarikan kembali unitnya tersebut berdampak pada keuntungan Samsung hingga mencapai USD 900 juta pada kuartal III-2016. Samsung berencana mendistribusikan 15 juta unit Galaxy Note 7 ke pasaran pada kuartal ketiga dan keempat. Akibat kasus ini, Samsung hanya mengirimkan 6 juta unit, dan banyak unit yang ditarik kembali.

"Yang paling penting adalah apakah Galaxy Note 7 yang akan dirilis akan memiliki masalah lain atau tidak. Jika memiliki masalah maka akan berdampak buruk ke Galaxy Note 7 dan juga Galaxy S8 yang akan dirilis di semester pertama tahun depan," kata Myung.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan mendorong langkah pencegahan kecelakaan dalam penerbangan yang telah diambil oleh beberapa maskapai penerbangan nasional Indonesia dalam menyikapi penarikan smartphone produk perusahaan tertentu dari pasar global.

Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Internasional, Dewa Made Sastrawan mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah adanya laporan mengenai masalah baterai pada smartphone tersebut saat digunakan atau dilakukan pengisian ulang (recharge) baterai oleh penggunanya di dalam pesawat saat terbang.

"Kami mengimbau agar perusahaan penerbangan nasional Indonesia lainnya melakukan langkah-langkah serupa untuk mencegah kecelakaan penerbangan menyusul penarikan smartphone produk perusahaan tertentu dari pasar global karena permasalahan baterai tersebut," ucap Made dalam keterangan tulis, Jakarta, Selasa (13/9).

Imbauan tersebut disampaikan sejalan dengan Peraturan Menteri Perhubungan nomor: PM 90 Tahun 2013 tentang Keselamatan Pengangkutan Barang Berbahaya Dengan Pesawat Udara, Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan, International Civil Aviation Organization (ICAO) Document 9284 on Technical Instruction for the Safe Transport of Dangerous Goods by Air dan ICAO Document 9481 on Emergency Response Guidance for Aircraft Incidents Involving Dangerous Goods.

"Kami selaku otoritas penerbangan sipil Indonesia akan terus berkonsultasi dengan ICAO dan otoritas penerbangan sipil negara lainnya untuk mencari cara mendeteksi dibawanya smartphone tersebut dalam penerbangan serta tentang kapan pengakhiran larangan tersebut", tambah Dewa Made. [sau]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.