Airlangga Sebut Sumber Pembiayaan Proyek Energi Fosil Semakin Sulit

Senin, 26 April 2021 09:42 Reporter : Merdeka
Airlangga Sebut Sumber Pembiayaan Proyek Energi Fosil Semakin Sulit Menko Airlangga Hartarto. ©2019 Foto: Lutfi/Humas Ekon

Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan urgensi dekarbonisasi dalam garapan proyek-proyek infrastruktur di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Menurutnya, penggunaan energi baru terbarukan (EBT) tidak hanya berkonsentrasi pada masalah lingkungan, namun juga sektor ekonomi.

Saat ini, lembaga penyedia dana memiliki preferensi mendanai proyek-proyek yang ramah lingkungan daripada proyek berbasis energi fosil.

"Biaya teknologi EBT semakin murah membuat EBT menjadi lebih kompetitif. Kita lihat sumber dan akses pembiayaan semakin sulit untuk fosil dan memudahkan untuk EBT," ujar Airlangga dalam webinar, Senin (26/4).

Dia menjelaskan, pasar global mulai menilai produk hasil industri yang memiliki catatan carbon footprint yang rendah. Carbon footprint ialah jumlah gas efek rumah kaca termasuk karbon dioksida dan gas metana dari suatu kegiatan.

"Produk industri pengolahan dilihat dari hasil listriknya, sumber energi listrik dari fosil jadi tidak lebih menjanjikan daripada EBT. Hal ini tentu berdampak pada ekspor hasil produk industri pengolahan," imbuhnya.

Indonesia sendiri memiliki potensi EBT yang beragam, mulai dari tenaga air, angin hingga matahari. Kendati, pemanfaatannya masih belum maksimal. Tercatat, hingga akhir 2020, total kaapsitas listrik berbasis EBT mencapai 10,5 GW, dengan kapasitas terbesar dari tenaga air sebesar 6,1 GW dan panas bumi 2,1 GW.

"Bauran energi primer realisasinya 11,2 persen, meskipun masih jauh dari target 23 persen namun meningkat 2,05 persen dibanding 2019," tandasnya.

Reporter: Athika Rahma

Sumber: Liputan6.com [azz]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini