Agar Tambang Tak Runtuh, Produksi Freeport Harus Tetap Berjalan Saat Transisi Saham

Kamis, 20 Desember 2018 15:52 Reporter : Merdeka
Agar Tambang Tak Runtuh, Produksi Freeport Harus Tetap Berjalan Saat Transisi Saham freeport. ©2018 liputan6.com

Merdeka.com - Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menyarankan agar kegiatan produksi PT Freeport‎ Indonesia tetap berjalan saat masa transisi peralihan saham mayoritas ke PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum).

Ketua Umum Perhapi, Rizal Kasali ‎mengatakan, jika kegiatan produksi berhenti, maka lokasi pertambangan bawah tanah Grasberg Papua bisa runtuh.

"Freeport harus tetap beroperasi, tidak boleh berhenti terowongan yang dibangun bisa runtuh," kata Rizal, di Jakarta, Kamis (20/12).

Menurut Rizal, ‎jika lokasi pertambangan Grasbreg runtuh akan memakan biaya besar untuk memperbaikinya, selain itu juga membuat tertundanya kegiatan penambangan bijih tembaga. Sebab itu kegiatan produksi harus tetap berjalan, agar perawatan pertambangan tetap dilakukan.

‎"Ini harus tetap produksi, harus di maintenance. kalau runtuh nanti lebih mahal lagi," tuturnya.

Terkait dengan harga saham Freeport Indonesia‎ sebesar 41,64 persen senilai USD 3,85 miliar, dia menilai besaran harga tersebut‎ cukup wajar. "Mahal atau tidak tergantung siapa yang melihat, harus ada dasar perhitunganya. Kalau Perhapi melihat wajar harganya," tandasnya.

Inalum pun sudah mendapatkan kucuran dana dari ‎penerbitan global bond sebesar USD 4 miliar, untuk akuisisi saham PT Freeport Indonesia 41,64 persen senilai USD ‎senilai USD 3,85 miliar

Berdasarkan informasi yang diperoleh Liputan6.com.‎ Global bond yang ditawarkan terdapat empat tenor, pertama tenor 3 tahun sebesar USD 1 miliar ‎dengan bunga 5,5 persen.

Kedua tenor 5 tahun sebesar USD 1,25 miliar dengan bunga 6 persen, berikutnya tenor 10 tahun sebesar USD 1 miliar dengan bunga ‎6,875 persen, serta tenor 30 tahun sebesar USD 750 juta dengan bunga 7,375 persen.

Untuk mendapatkan dana dari global bond, induk usaha holding BUMN Pertambangan tersebut telah melakukan ‎road show ke Singapura, Hongkong, Amerika Serikat dan London.

Namun seperti tebakan telur dan ayam, Inalum masih menahan pelunasan atas pembelian 41,64 persen saham Freeport Indonesia karena menungu penerbitan IUPK untuk Freeport Indonesia.

Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono

Sumber: Liputan6.com [idr]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini