KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

ADB: Inflasi rendah, Indonesia jangan takut naikkan BBM

Kamis, 25 September 2014 11:23 Reporter : Ardyan Mohamad
ADB. REUTERS

Merdeka.com - Bank Pembangunan Asia (ADB) melansir prediksi makroekonomi Indonesia untuk 2015. Pertumbuhan ekonomi kemungkinan tumbuh 5,8 persen, inflasi paling tinggi 6,9 persen, dan defisit neraca transaksi berjalan 2,5 persen. Itu semua menunjukkan adanya perbaikan kondisi di Tanah Air secara keseluruhan.

Inflasi tahunan pada 2015, kata Wakil Kepala ADB Indonesia Edimon Ginting, diakui memang meningkat dibandingkan proyeksi 5,8 persen akhir tahun nanti. Tapi itu sudah memperhitungkan rencana pemerintahan baru menaikkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi buat menyehatkan anggaran.

"Tapi kenaikan harga BBM itu sifatnya inflasi temporer, tidak sampai setahun," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (25/9).

Edimon menunjukkan data inflasi pada 2013, yang sama-sama mengalami penaikan harga energi fosil. Nyatanya, dampak langsung pada inflasi tahunan hanya muncul dua bulan berturut-turut. Sisanya, kenaikan indeks harga konsumen justru didorong peraturan Kementerian Pertanian soal impor hortikultura yang bikin harga bawang putih dan cabe melonjak.

Atas dasar itu, ADB yakin Presiden Terpilih Joko Widodo tidak perlu mengkhawatirkan inflasi parah ketika harga BBM dinaikkan.

"Kita ingat 2013, dulu ada restriksi impor beberapa jenis hortikultura. Semua sudah dikoreksi dan sekarang normal. Dampak kenaikan harga BBM selalu seperti ini, temporary, hanya satu faktor saja," kata Edimon.

Tren positif Indonesia tahun depan, kata Edimon seiring dengan perbaikan di negara-negara kawasan. Filipina, Thailand, atau Malaysia juga mengalami momentum pertumbuhan ekonomi tinggi, disokong inflasi rendah.

Salah satu keuntungan lain Indonesia adalah perbaikan ekspor. Terpukulnya perekonomian pada 2013 membuat pemerintah serius memberi insentif pada industri.

Hasilnya, ekspor manufaktur kini secara volume mengalahkan penjualan komoditas sumber daya alam. Edimon optimis itu merupakan indikasi Indonesia bisa menikmati defisit transaksi berjalan lebih rendah dari 3,2 persen akhir 2014.

"Karena ada perbaikan ekspor. Memang ekspor ini masih tentatif, kadang negatif kadang positif. Tapi mulai ada tanda-tanda perbaikan." [bim]

Topik berita Terkait:
  1. BBM Naik
  2. Ekonomi Indonesia
  3. Inflasi
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.