5 Sektor Prioritas Presiden Jokowi Perbaiki Defisit Neraca Perdagangan

Senin, 11 November 2019 15:31 Reporter : Intan Umbari Prihatin
5 Sektor Prioritas Presiden Jokowi Perbaiki Defisit Neraca Perdagangan Jokowi dan Jusuf Kalla Hadiri HUT Partai Golkar. ©2019 Liputan6.com/JohanTallo

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta jajaran kabinet Indonesia Maju berinovasi melakukan terobosan kebijakan dalam menekan defisit neraca perdagangan. Setidaknya ada sejumlah arahan yang menjadi perhatian Presiden Jokowi.

Pertama, perbaikan pada industri migas nasional. Di mana, Presiden Jokowi meminta Indonesia bisa menekan impor bahan bakar minyak (BBM) melalui program energi baru terbarukan seperti biodiesel.

"Impor BBM yang menjadi penyumbang defisit terbesar. Oleh sebab itu, pembangunan kilang harus menjadi prioritas dan lifting produksi minyak di dalam negeri juga harus kita tingkatkan," ujarnya di Kantornya, Jakarta, Senin (11/11).

Kedua, memperbesar investasi pada industri substitusi impor. Selain bisa memproduksi sendiri produk impor, pengembangan industri ini juga mampu menyerap tenaga kerja besar.

"Ketiga, saya juga ingin mengingatkan kebijakan TKDN (tingkat kandungan dalam negeri) dalam proyek-proyek pemerintah yang sudah sebulan tidak saya singgung sehingga optimalisasi kandungan TKDN harus kita optimalkan," jelasnya.

Keempat, ialah menggenjot kinerja ekspor melalui pencarian pasar nontradisional hingga mengikuti pameran besar. Selain itu, perjanjian perdagangan bebas juga harus menjadi fokus kerja dalam meningkatkan ekspor Indonesia.

"Promosi produk-produk ekspor maupun promosi pariwisata dan investasi agar betul-betul kuat membangun brand image yang baik dan terintegrasi sehingga betul-betul pameran yang kita lakukan bisa mendatangkan manfaat."

"Sekali lagi kalau mau pameran yang besar sekalian. Saya ingatkan yang dulu-dulu pameran hanya menghabiskan anggaran. Pameran di sebuah expo besar tetapi stan kita ada di dekat toilet. Jangan diulangi lagi, sudah itu setop. Lebih baik tidak usah pameran kalau yang ada seperti itu," tambahnya.

Kelima, Presiden Jokowi menekankan percepatan pengembangan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dalam menekan defisit neraca perdagangan. Tujuannya agar sektor jasa bisa menyumbang peningkatan angka ekspor. "Jangan lupa kita punya unicorn dan decacorn yang juga merambah ke luar negeri," tutupnya.

1 dari 2 halaman

Kata Jokowi soal Defisit Neraca Perdagangan RI Terparah Sepanjang Sejarah

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mencapai USD 2,50 miliar pada April 2019 lalu. Ini dipicu oleh faktor defisit sektor migas sebesar USD 1,49 miliar, dan non-migas senilai 1,01 miliar.

Defisit neraca perdagangan tersebut merupakan yang terparah sepanjang sejarah, melampaui perolehan pada Juli 2013 lalu yang sebesar USD 2,33 miliar.

Menyikapi hal tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, defisit neraca perdagangan memang merupakan persoalan besar. Dia menyebutkan, kunci utama untuk memangkas defisit tersebut ialah penguatan ekspor.

"Tapi rumusnya, kalau ekspornya tidak meningkat, substitusi impornya tidak diproduksi sendiri di dalam negeri, sampai kapanpun enggak akan rampung mulu," ujar dia di Bendungan Rotiklot, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Senin (20/5).

Jokowi melanjutkan, industrialisasi dan hilirisasi menjadi kunci utama sehingga negara bisa memproduksi barang jadi ketimbang bahan mentah. "Oleh sebab itu kuncinya industrialisasi. Kuncinya hilirisasi. Jangan sampai ngirim bahan mentah, jangan sampai ngirim raw material. Semuanya harus ada nilai tambah di dalam negeri. Kuncinya di situ aja," tegasnya.

"Kayak sekarang ini sudah kerjakan avtur, sekarang sudah enggak impor, kerjain di sini nanti mulai bulan depan sudah enggak ada impor avtur dan solar," dia menambahkan.

Jokowi pun mempermasalahkan bilamana Indonesia ke depannya masih terus bergantung kepada impor tanpa bisa memproduksi barang jadi sendiri.

"Sampai kapan pun defisitnya pasti akan besar kalau impor, enggak usah diceritain. Yang paling penting itu bagaimana menyelesaikan persoalan itu," pungkas dia.

2 dari 2 halaman

Sri Mulyani Akui Sulit Menurunkan Defisit Neraca Perdagangan

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengakui defisit neraca perdagangan RI sejauh ini masih belum bisa diatasi. Salah satunya karena permintaan pada sektor minyak dan gas (migas) setiap tahunnya terlampau tinggi, sehingga mau tidak mau impor di sektor tersebut terus dilakukan.

"Kalau dilihat dari neraca migas yang negatif memang transaksi perdagangan sulit untuk positif," kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan, pemerintah sendiri sudah mengambil langkah untuk menekan defisit neraca perdagangan. Salah satunya menerapkan B20 atau campuran 20 persen minyak sawit pada solar. Namun dia tak menyebutkan berapa besar penerapan B20 untuk mengurangi defisit neraca perdagangan.

"Penerapan B20 untuk mengatasi ini. Yang lain meningkatkan ekspor di sektor lain," kata dia.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2019 defisit sebesar USD 63,5 juta. Jumlah tersebut disumbang oleh defisit sektor migas sebesar USD 142,4 juta sedangkan sektor non-migas surplus USD 78,9 juta.

"Dengan ekspor sebesar USD 15,45 miliar dan impor USD 15,51 miliar, maka defisit sekitar USD 0,06 miliar atau USD 63,5 juta," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (15/8).

[bim]

Baca juga:
Ekspor Sumbang Penurunan Defisit Transaksi Berjalan
Saran Sandiaga Uno Agar Pemerintah Jokowi Bisa Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan
Tingkatkan Ekspor, Mendag Agus akan Selesaikan Perjanjian Perdagangan
Strategi Menko Airlangga Perbaiki Defisit Transaksi Perdagangan dan Berjalan
Tingkatkan Daya Saing, Jokowi Perintahkan Airlangga Kurangi Defisit RI
Sri Mulyani Akui Sulit Menurunkan Defisit Neraca Perdagangan
Pengembangan Energi Terbarukan Mampu Perbaiki Defisit Neraca Perdagangan

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini