5 Produk makanan RI yang sukses di luar negeri

Selasa, 5 April 2016 07:09 Reporter : Saugy Riyandi
5 Produk makanan RI yang sukses di luar negeri Pecel Lele Lela. ©blogspot.com

Merdeka.com - Banyak produk-produk asli Indonesia yang jadi primadona di luar negeri. Salah satunya jamu atau obat herbal Indonesia.

Produk herbal keluaran PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk diekspor ke berbagai negara Afrika, Asia hingga Eropa.

Direktur Keuangan Sido Muncul Venancia Sri Indrijati mengatakan bahwa strategi perusahaan saat ini ialah melakukan penetrasi lebih dalam ke pasar-pasar tradisional mereka. Perusahaan juga tengah berupaya untuk melakukan ekspor secara langsung guna memotong rantai distribusi. Lantaran, selama ini ekspor dilakukan melalui distributor di negara tujuan.

"Untuk produk kita butuh waktu untuk pendaftaran di negara tersebut. Selama ini produk yang dieskpor masih sifatnya impor oleh pedagang atau distributor di sana. Ke depan, kita akan ekspor langsung dan mainstream," ujar dia.

Selain produk herbal, produk-produk makanan Indonesia juga digandrungi masyarakat dunia. Produk Indomie keluaran PT Indofood Sukses Makmur telah diekspor ke 80 negara di lima benua setiap tahunnya.

Beberapa negara yang menjadi target pasar Indomie antara lain adalah Singapura, Malaysia, Brunei, Hongkong, hingga Taiwan. Indomie juga sudah terbang jauh ribuan kilometer mulai dari wilayah Eropa, Timur Tengah, Afrika, hingga benua Amerika.

Selain produk keluaran perusahaan besar, Indonesia juga kaya akan produk hasil usaha yang membuka cabang di luar negeri. Bahkan, banyak waralaba asal Indonesia yang sudah mendapatkan hati masyarakat dunia.

Menurut AFI (Asosiasi Franchise Indonesia), terdapat beberapa waralaba Indonesia telah memasuki dunia internasional. AFI menegaskan sudah ada 5 waralaba Indonesia yang benar-benar telah siap bersaing dengan waralaba-waralaba dunia. Waralaba ini didirikan oleh orang asal Indonesia.

Berikut 5 produk waralaba makanan RI yang sukses di luar negeri seperti dilansir hipwee.com:

1 dari 5 halaman

Pecel lele Lela

Pecel Lele Lela. ©blogspot.com

Pendirinya Rangga Umara, mantan manajer salah satu perusahaan. Dia bukan di-PHK, melainkan mengundurkan diri karena saat itu keadaan perusahaan memang sudah tidak memungkinkan. 

Dengan modal Rp 3 juta dari hasil menjual barang-barang pribadinya, Rangga ini mulai bekerja sama dengan temannya yang memang ahli membuat racikan bumbu. Lalu, dibukalah warung Pecel Lele Lela pertama di daerah Pondok Bambu, Jakarta Timur pada 2007. 

Namun, usaha ini tidak berjalan lancar. Bahkan, Rangga sampai harus berhutang. Akhirnya dengan modal seadanya, dibukalah warung baru di tempat yang lebih strategis. Hingga mampu meraup untung Rp 3 juta per bulan. Dari situlah, dibuka cabang-cabang Lele Lela lainnya. 

Saat ini, sudah ada 42 cabang warung Lele Lela di seluruh Indonesia dan satu cabang di Malaysia. Dalam sebulan, omset yang bisa diraih warung ini mencapai Rp 4,8 miliar.

2 dari 5 halaman

Bumbu Desa

Bumbu Desa. ©blogspot.com

Namanya Bumbu Desa. Tapi, rasanya dijamin kota. Pendirinya, Santoni dan keluarga yang sangat mencintai kuliner tradisional, terutama sunda, mendirikan warung makan ini pada 2004. 

Kini, sudah ada lebih dari 50 cabang Bumbu Desa di Indonesia maupun luar negeri. Tidak hanya makanan, Santoni juga menjamin kualitas pelayanan dari para pegawainya. 

Bahkan, ada pelatihan khusus untuk para pegawainya yang langsung dipandu oleh ahli dari bidang jasa dan psikologi.

3 dari 5 halaman

Es Teler 77

Es Teler 77 di Singapura. ©2013 Merdeka.com

Awalnya, Murniati sebagai pendiri hanya menjual Es Teler 77 ini di sebuah kantin kecil di pertokoan Duta Merlin Jakarta. Karena pajak yang tinggi, maka kantin kecil itu tentu harus tutup karena tidak mampu bayar.

Hingga akhirnya, dibukalah kantin baru di kawasan pertokoan Gajah Mada Plaza. Dan di sinilah Es Teler 77 menjadi sangat terkenal. 

Hingga didirikanlah sebuah perusahaan swasta milik keluarga, yaitu CV Es Teler 77. Saat ini sudah ada cabang Es Teler 77 di Penang Malaysia, Singapura, India, dan Australia. 

4 dari 5 halaman

Ayam Bakar Mas Mono

Ayam Bakar Mas Mono. ©blogspot.com

Mas Mono ini hanya lulusan SMA di Madiun dan hijrah ke Jakarta. Awalnya, dia jadi OB sampai harus jualan pisang cokelat keliling SD.

Hingga akhirnya, Mas Mono dan istri mempunyai ide berjualan ayam bakar. Sekarang sudah ada 29 outlet resto yang dimiliki Mas Mono. Tak hanya itu, Mas Mono juga mendapat penghargaan dari Asia Pasifik Entrepreneur Award 2010.

5 dari 5 halaman

J.Co

J.Co. ©blogspot.com

Pendirinya adalah Johnny Andrean, penata rambut yang telah mempunyai 150 salon di seluruh Indonesia. Hobinya yang suka travelling menjadikannya banyak ide kreatif. 

Setelah salon, akhirnya Johnny membuka gerai roti BreadTalk. Nah, sukses dengan BreadTalk, Johnny membuka J.Co Donuts & Coffee.

J.Co ini merupakan hasil risetnya ke berbagai negara seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan berbagai negara di Eropa. [sau]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini